Penulis : Meylani, Peserta LKK HMI Cabang Bengkulu

Bengkulu, tvkitenews.com – Sejak kecil, banyak perempuan dibesarkan dengan pesan yang terdengar lembut namun membentuk cara pandang seumur hidup: jadilah anak baik, jangan banyak protes, jangan menonjol, dan selalu utamakan perasaan orang lain. 

Pesan-pesan semacam ini kemudian mengkristal menjadi apa yang dikenal sebagai “good girl syndrome”, sebuah

pola pikir dan perilaku yang menuntut perempuan untuk selalu patuh, menyenangkan orang lain, menghindari konflik, dan meredam ambisinya sendiri demi dianggap baik oleh lingkungan sosialnya.

Di permukaan, sindrom ini tampak seperti kebajikan. Perempuan yang penurut,

sopan, dan tidak banyak menuntut sering dipuji sebagai sosok ideal. Namun di balik pujian itu tersembunyi ongkos psikologis yang besar: hilangnya keberanian untuk bersuara, tumpulnya naluri untuk memimpin, dan matinya keinginan untuk mengambil risiko.

Padahal, kepemimpinan menuntut keberanian mengambil keputusan sulit, kesediaan untuk tidak disukai semua orang, serta kemampuan menegosiasikan kepentingan tanpa rasa bersalah berlebihan.

Ketiga hal ini justru yang paling ditekan oleh budaya “anak baik”.

Fenomena ini terlihat nyata dalam berbagai ruang, mulai dari organisasi kemahasiswaan, dunia kerja, hingga panggung politik. Tidak sedikit perempuan potensial yang menahan diri untuk maju sebagai ketua organisasi karena khawatir dicap terlalu ambisius atau tidak feminin. Banyak pula yang lebih memilih menjadi “tangan kanan” yang bekerja keras di balik layar ketimbang tampil sebagai pengambil keputusan utama, bukan

karena tidak mampu, melainkan karena telah lama diajari bahwa menonjolkan diri adalah

sesuatu yang tabu bagi perempuan.

Ironisnya, sindrom ini sering kali diwariskan oleh perempuan itu sendiri kepada generasi berikutnya, baik oleh ibu kepada anak perempuannya maupun oleh senior kepada junior perempuannya di organisasi. Nasihat seperti “jangan terlalu vokal, nanti

dibilang galak” atau “mengalah saja, biar dianggap dewasa” tampak sebagai bentuk kasih sayang, padahal secara perlahan mengikis kepercayaan diri dan kapasitas kepemimpinan perempuan sejak dini.

Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam, saya meyakini bahwa Islam justru mendorong perempuan untuk cerdas, berani menyampaikan kebenaran, dan berperan

aktif dalam ruang publik. Nilai-nilai keislaman dan intelektualitas yang diperjuangkan HMIseharusnya menjadi ruang aman bagi kader perempuan untuk membongkar pola pikir “good girl” ini, bukan melanggengkannya melalui budaya organisasi yang masih timpang

dalam distribusi peran kepemimpinan.

Untuk itu, dibutuhkan langkah nyata dari berbagai pihak. Keluarga perlu mulai

membesarkan anak perempuan dengan mendorong keberanian bersuara, bukan sekadar kepatuhan. Institusi pendidikan dan organisasi kemahasiswaan perlu menyediakan ruang kepemimpinan yang setara serta mentor perempuan yang dapat menjadi teladan.

Perempuan sendiri perlu secara sadar melatih diri untuk berani mengatakan tidak,

menerima ketidaksukaan orang lain sebagai konsekuensi wajar dari sikap tegas, dan tidak lagi menukar potensi kepemimpinannya dengan validasi sosial semata.

Perempuan pemimpin masa depan tidak lahir dari kepatuhan tanpa batas, melainkan

dari keberanian untuk keluar dari kotak “anak baik” yang selama ini membelenggu. 

Sudah saatnya kita berhenti mengukur nilai seorang perempuan dari seberapa menyenangkan dirinya di mata orang lain, dan mulai mengukurnya dari seberapa besar kontribusi serta keberanian yang ia tunjukkan bagi kemajuan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *