Tulisan ini dibuat dalam rangka peringatan Hari Statistik Nasional Tahun 2026

Penulis : M. Fajar Shodiq

Editor : Redaktur tvkitenews

Aku selalu menyukai data. Entah sejak kapan persisnya. Barangkali sejak aku mulai menyadari bahwa banyak hal dalam hidup ini tidak cukup hanya dirasakan, tetapi juga perlu dibaca, dicatat, dibandingkan, dan dipahami.

Bagiku, data bukan sekadar angka. Ia adalah jejak. Jejak tentang manusia, tentang kehidupan, tentang perubahan, tentang harapan dan juga tentang persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Aku sering membayangkan data seperti kerangka sebuah bangunan. Orang mungkin hanya melihat dinding yang berdiri, pintu yang terbuka, jendela yang bercahaya, atau atap yang menaungi. Tetapi jauh di dalamnya ada kerangka yang membuat bangunan itu tetap tegak.

Demikian pula pembangunan. Kita bisa membangun jalan, jembatan, pasar, sekolah, kawasan industri dan berbagai fasilitas lainnya. Tetapi sebelum semuanya dibangun, harus ada gambaran tentang apa yang sebenarnya kita miliki, apa yang sedang terjadi dan apa yang dibutuhkan. Dan gambaran itu bernama data. 

Data yang akurat akan melahirkan kerangka yang kuat. Kerangka yang kuat akan membuat bangunan lebih kokoh.

Itulah sebabnya ketika kemudian aku mendapat kesempatan menjadi  PML dalam SE2026, aku merasa seperti sedang memasuki sebuah ruang yang selama ini memang dekat dengan kegemaranku.

Ruang tempat angka bertemu manusia. Ruang tempat data bertemu kehidupan.

Aku senang mendengar cerita tentang kehidupan seseorang, tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, tentang bagaimana ia mencari penghidupan, tentang bagaimana sebuah usaha dimulai dari kecil lalu perlahan berkembang.

Aku juga menyukai tempat-tempat yang belum kukenal. Ada sesuatu yang selalu menarik ketika memasuki sebuah kampung, menyusuri jalan kecil, melihat aktivitas masyarakat, memperhatikan rumah-rumah, warung, kebun, pasar, tempat usaha dan orang-orang yang menjalani kehidupannya.

Setiap tempat seperti memiliki denyutnya sendiri. Ada adat. Ada kebiasaan. Ada cara hidup. Ada bahasa pergaulan. Ada cara masyarakat mempertahankan kehidupannya. Dan semuanya menarik bagiku.

Karena itu, pekerjaan menggali data sesungguhnya tidak terasa asing. Aku seperti sedang membaca kehidupan dari halaman ke halaman. Bedanya, kali ini halaman itu tidak berupa buku. Halaman itu adalah jalan. Rumah. Warung. Kebun. Tempat usaha. Dan wajah-wajah manusia yang kutemui.

Kadang aku datang untuk mendapatkan sebuah jawaban. Tetapi pulang membawa sebuah cerita.

Kadang sebuah pertanyaan sederhana membuka percakapan yang panjang. Tentang usaha yang dirintis bertahun-tahun. Tentang penghasilan yang naik turun. Tentang pelanggan yang semakin sedikit. Tentang anak yang sedang sekolah. Tentang harapan memperbesar usaha. Tentang kesulitan mendapatkan modal. Tentang perubahan zaman yang membuat cara orang berdagang ikut berubah.

Pada saat seperti itu aku kembali diingatkan: angka tidak pernah benar-benar hanya angka. Di belakang angka selalu ada manusia.

Mungkin inilah bagian yang paling kusukai dari pekerjaan lapangan. Aku bisa melihat masyarakat bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia yang hidup dengan segala persoalannya.

Ketika sebuah usaha tercatat dalam data, aku membayangkan ada tangan yang setiap hari menggerakkannya. Ada orang yang membuka pintu pagi-pagi. Ada yang menghitung modal. Ada yang membeli bahan baku. Ada yang menunggu pembeli. Ada yang pulang membawa hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan.

Begitu pula dengan usaha-usaha kecil yang sering kali luput dari pandangan kita. Mereka mungkin tidak memiliki papan nama besar. Tidak mempunyai kantor yang megah. Tidak memiliki laporan keuangan yang rapi. Tetapi mereka hidup. Mereka bergerak. Mereka ikut menghidupkan ekonomi. Mereka ikut menopang keluarga. Dan mereka adalah bagian dari wajah ekonomi negeri ini.

Maka ketika data tentang mereka dicatat, sesungguhnya kita sedang berusaha agar keberadaan mereka tidak hilang dari peta.

Agar mereka tidak menjadi sesuatu yang samar dalam gambaran besar perekonomian.

Agar pemerintah dapat melihat bahwa di balik statistik ekonomi ada jutaan kehidupan yang bergerak setiap hari.

SE2026 kemudian memberiku pemahaman yang semakin dalam tentang arti data. Sensus Ekonomi bukan sekadar kegiatan bertanya dan mencatat. Ia adalah usaha untuk melihat Indonesia dari dekat. 

Dari kehidupan ekonomi masyarakatnya. Dari usaha kecil yang tumbuh di pinggir jalan. Dari warung yang buka sejak pagi. Dari pedagang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari pengusaha yang mempekerjakan beberapa orang. Dari kegiatan produksi yang mungkin tidak pernah masuk berita. Dari aktivitas ekonomi yang berjalan diam-diam tetapi sesungguhnya ikut menggerakkan roda kehidupan. Semua itu perlu diketahui.

Sebab pembangunan tanpa pengetahuan tentang keadaan yang sebenarnya hanya akan menjadi tebakan. Dan aku tidak ingin pembangunan negeri ini dibangun dari tebakan.

Pembangunan membutuhkan arah. Arah membutuhkan pengetahuan. Dan pengetahuan membutuhkan data. Karena itu aku menyebut SE sebagai salah satu soko guru pembangunan.

Mungkin istilah itu terdengar terlalu besar untuk sebuah pekerjaan lapangan yang kulakukan. Tetapi aku percaya, sesuatu yang besar memang sering tersusun dari pekerjaan-pekerjaan kecil.

Sebuah jembatan tidak hanya terdiri dari bentang yang terlihat oleh mata. Ada baut. Ada besi. Ada sambungan. Ada fondasi yang bahkan tidak terlihat setelah bangunan selesai.

Begitu pula dengan data. Ketika kelak data itu sudah menjadi tabel, grafik, analisis dan berbagai bentuk informasi lainnya, mungkin tidak ada lagi yang mengingat siapa yang pernah datang ke sebuah rumah dan bertanya. Tetapi pekerjaan kecil itu pernah dilakukan. Dan ia menjadi bagian dari proses yang lebih panjang.

Menjadi petugas membuatku kembali belajar tentang kesabaran.

Tidak semua pintu terbuka dengan mudah. Tidak semua orang langsung memahami maksud kedatanganku.

Tidak semua jawaban bisa diperoleh hanya dengan sebuah pertanyaan. Kadang yang diperlukan adalah percakapan. Kadang yang diperlukan adalah penjelasan. Kadang yang diperlukan hanyalah duduk sebentar dan mendengarkan.

Aku belajar bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara. Komunikasi adalah kemampuan membuat orang lain merasa aman untuk berbicara.

Dan karena aku memang menyukai pergaulan dengan masyarakat, bagian ini justru menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan.

Aku bertemu banyak karakter. Banyak cerita. Banyak cara pandang. Ada orang yang banyak bicara. Ada yang pendiam. Ada yang sangat terbuka. Ada yang hati-hati. Ada yang penuh humor. Ada yang serius. Ada yang awalnya tampak asing, tetapi setelah berbincang beberapa saat terasa seperti sudah lama mengenal.

Barangkali inilah hadiah kecil dari pekerjaan lapangan yang tidak tertulis dalam formulir mana pun: pertemuan dengan manusia.

Data mungkin menjadi tujuan pekerjaanku. Tetapi manusia menjadi pengalaman yang kubawa pulang.

Semakin jauh aku menjalani SE2026, semakin sering aku berpikir tentang sebuah puzzle.

Bayangkan sebuah gambar besar. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa gambar itu jika hanya memegang satu keping.

Satu keping tampak kecil. Kadang bentuknya aneh. Warnanya pun mungkin tidak menarik. Tetapi ketika keping-keping itu disatukan, perlahan sebuah gambar muncul.

Begitu pula dengan tugasku. Aku hanyalah satu keping kecil. Sangat kecil. Di antara begitu banyak petugas. Di antara begitu banyak wilayah. Di antara begitu banyak masyarakat. Di antara begitu banyak data yang dikumpulkan. Namaku mungkin tidak akan pernah disebut ketika kelak orang membaca hasil akhirnya.

Dan aku tidak mempersoalkan itu. Sebab aku tidak sedang mencari nama. Aku hanya ingin keping yang menjadi bagianku ditempatkan pada tempat yang benar.

Sebab sekecil apa pun sebuah puzzle, ia tetap mempunyai posisi. Jika satu keping hilang, gambar itu tidak sempurna. Jika satu keping salah tempat, gambar itu menjadi berbeda. Maka aku ingin melakukan bagian kecilku dengan sebaik-baiknya.

Aku ingin data yang kutemui benar. Informasi yang kuterima jelas. Catatan yang kubuat dapat dipertanggungjawabkan. Karena aku tahu, di belakang pekerjaan kecil ini ada kepentingan yang jauh lebih besar.

Ada kebanggaan tersendiri ketika aku menyadari bahwa aku ikut menjadi bagian dari SE2026.

Bukan kebanggaan karena seragam. Bukan karena jabatan. Bukan pula karena namaku akan dikenang. Kebanggaan itu justru muncul dari kesadaran bahwa aku telah diberi kesempatan untuk ikut mengerjakan sesuatu bagi negeri ini.

Mungkin hanya sedikit. Mungkin sangat kecil. Tetapi bukankah sebuah bangunan besar juga tersusun dari benda-benda kecil? Satu batu. Satu bata. Satu batang besi. Satu sambungan. Satu paku. Tidak ada yang berdiri sendiri. Begitu pula bangsa.

Indonesia dibangun oleh begitu banyak orang yang mengerjakan bagiannya masing-masing. Ada yang bekerja di kantor. Ada yang bekerja di sawah. Ada yang berdagang. Ada yang mengajar. Ada yang mengobati. Ada yang menjaga keamanan. Ada yang membangun jalan. Ada yang menulis kebijakan. Dan ada yang berjalan dari rumah ke rumah untuk mencari data.

Aku berada di bagian yang terakhir itu. Kecil. Tetapi ada. Dan aku bersyukur pernah berada di sana.

Kini aku semakin memahami bahwa mencintai data sesungguhnya adalah cara lain untuk mencintai kehidupan.

Sebab data yang benar akan membuat kita melihat sesuatu sebagaimana adanya. Tidak dilebihkan. Tidak dikurangi. Tidak dibangun berdasarkan perasaan semata.

Data memaksa kita untuk jujur kepada kenyataan. Dan pembangunan yang baik harus berangkat dari kenyataan.

Bukan dari bayangan. Bukan dari asumsi. Bukan dari apa yang ingin kita lihat. Tetapi dari apa yang benar-benar ada.

Karena itu, bagiku, SE2026 bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah perjalanan. Perjalanan menyusuri masyarakat. Perjalanan bertemu manusia. Perjalanan membaca perubahan. Perjalanan memahami denyut ekonomi dari jarak yang paling dekat.

Dan pada akhirnya, perjalanan itu membawaku kembali kepada keyakinan lama: data adalah kerangka. Kerangka membentuk bangunan. Dan sebuah bangunan yang kokoh harus dimulai dari kerangka yang benar.

Aku tidak tahu seberapa besar pengaruh keping kecil yang kutempatkan dalam perjalanan ini.

Aku juga tidak tahu akan menjadi bangunan seperti apa kelak gambar besar yang disusun dari seluruh data itu.

Tetapi aku tahu satu hal. Aku telah datang. Aku telah berjalan. Aku telah bertanya. Aku telah mendengar. Aku telah mencatat. Dan aku telah menjadi bagian kecil dari sebuah pekerjaan besar.

Barangkali suatu hari nanti, ketika hasil SE2026 telah berubah menjadi angka-angka yang tersusun rapi, menjadi tabel, grafik, kebijakan dan program pembangunan, tidak ada yang akan mengingat jalan yang pernah kulewati.

Tidak ada yang akan mengingat pintu mana yang pernah kuketuk. Tidak ada yang akan mengingat percakapan-percakapan kecil yang pernah terjadi.

Tidak apa-apa. Sebab aku percaya, tidak semua pengabdian membutuhkan nama. Ada pekerjaan yang cukup dilakukan dengan ketulusan. Ada kontribusi yang cukup diketahui oleh hati sendiri. Dan ada bagian-bagian kecil dalam sejarah sebuah bangsa yang memang tidak perlu ditulis dengan huruf besar.

Cukup menjadi satu keping. Satu keping yang berada di tempatnya. Satu keping yang tidak hilang. Satu keping yang ikut membuat gambar menjadi utuh.

Dan hari ini, ketika aku menoleh ke belakang pada perjalanan SE2026, aku tersenyum dan berkata kepada diriku sendiri: Aku dan data pernah berjalan bersama.

Aku belajar membaca angka dari manusia. Aku belajar membaca manusia dari kehidupan.

Dan dari kehidupan itu aku belajar bahwa membangun negeri ternyata tidak selalu harus dengan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan memastikan satu data dicatat dengan benar.

Karena mungkin saja, dari satu data yang benar itu, suatu hari lahir sebuah keputusan yang benar. Dari keputusan yang benar lahir kebijakan yang tepat. Dari kebijakan yang tepat lahir pembangunan. Dan dari pembangunan itulah, sedikit demi sedikit, kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Jika kelak ada yang bertanya apa yang telah kulakukan untuk negeri ini, mungkin jawabanku sederhana: Aku pernah menjadi satu keping kecil dalam puzzle besar bernama Indonesia.

Dan aku bangga telah menjadi bagian kecil itu.

*)penulis adalah jurnalis tvkitenews.com, mitra bps Lahat dan anggota Forum Lingkar Pena Kabupaten Lahat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *