Reporter: M. Fajar Shodiq

Editor: Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Kemarau berkepanjangan mulai memukul petani karet di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Meski harga karet mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir, pendapatan petani justru tertekan akibat anjloknya produktivitas.

Penurunan produksi bahkan mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Suhariyanto, petani karet di Desa Purwosari, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat.

Ia mengatakan, dari lahan karet seluas dua hektare, biasanya dirinya mampu menghasilkan sekitar 60 kilogram karet dalam satu minggu. Namun akibat kemarau, produksi kini hanya berkisar 30 hingga 32 kilogram dalam periode yang sama.

“Dari lahan karet dua hektare saat ini hanya sekitar 30 sampai 32 kilogram seminggu. Biasanya dalam waktu yang sama bisa memperoleh 60-an kilogram. Artinya sekitar 50 persen mengalami penurunan produktivitas,” ujar Suhariyanto.

Menurutnya, minimnya curah hujan membuat kondisi tanaman karet tidak optimal sehingga produksi getah yang dihasilkan ikut menurun. Dampaknya, meskipun harga jual membaik, pendapatan yang diterima petani tetap mengalami tekanan.

Di sisi lain, harga karet di tingkat petani justru menunjukkan tren positif dalam beberapa minggu terakhir.

Suhariyanto menyebut, harga pabrik terakhir mencapai sekitar Rp22.800 per kilogram. Setelah dikurangi biaya operasional sekitar Rp1.525 per kilogram, petani masih memperoleh sekitar Rp21.275 per kilogram.

“Alhamdulillah kalau harga mengalami kenaikan. Terakhir kemarin harga petani Rp21.275 per kilogram. Namun karena penurunan produktivitas yang sangat tajam, pendapatan petani juga mengalami penurunan,” katanya.

Ia menambahkan, besaran biaya operasional tersebut bersifat fluktuatif, tergantung kondisi di lapangan serta tingkat penyusutan yang terjadi.

Dampak kemarau tidak hanya dirasakan petani secara individu. Kelompok Usaha Bersama (KUB) Hidup Baru yang beranggotakan 15 orang juga mengalami penurunan produksi cukup signifikan.

Ketua KUB Hidup Baru, Lasdosro, mengatakan, dalam kondisi normal kelompoknya mampu mengumpulkan dan menjual sekitar 2,5 hingga 3 ton karet ke Palembang setiap dua minggu.

Namun, selama kemarau berkepanjangan, produksi dalam periode yang sama hanya mencapai sekitar 1,2 hingga 1,7 ton.

Penurunan volume tersebut membuat biaya pengiriman ke pabrik di Palembang menjadi lebih berat jika tetap dilakukan secara mandiri.

Untuk menyiasatinya, KUB Hidup Baru memilih melelang atau menawarkan produksi karet kepada tengkulak di sekitar wilayah mereka.

“Kita lelang ke tengkulak, berapa berani dia bayar. Kalau harga yang ditawarkan masih masuk akal, ya kita lepas. Sebab kalau kita paksa kirim sendiri ke Palembang, besar di ongkosnya. Bisa jadi harga yang diterima anggota menjadi lebih rendah dibandingkan kalau kita lelang saja di sini,” jelas Lasdosro.

Menurutnya, pengiriman langsung ke pabrik baru lebih efisien apabila volume karet telah memenuhi minimal muatan sekitar tiga ton.

Jika produksi hanya kurang dari dua ton tetapi tetap dipaksakan dikirim ke Palembang, biaya operasional akan membengkak. Sementara apabila pengiriman ditunda hingga satu bulan untuk mengejar volume tiga ton, penyusutan bahan olahan karet atau bakor justru berpotensi semakin tinggi.

Karena itu, dalam kondisi kemarau seperti saat ini, menjual melalui mekanisme lelang kepada tengkulak dinilai menjadi pilihan yang lebih realistis.

Cara tersebut diharapkan mampu menjaga harga jual tetap kompetitif sekaligus menekan kerugian yang harus ditanggung petani akibat turunnya produktivitas.

Kemarau berkepanjangan pun kini menjadi tantangan ganda bagi petani karet Lahat: produksi menurun tajam, sementara biaya untuk mempertahankan rantai pemasaran tetap berjalan justru meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *