Penulis : M. Fajar Shodiq
Editor : Redaktur tvkitenews
Lahat, tvkitenews.com – Ramadhan selalu hadir sebagai momentum spiritual yang melampaui ritual individual. Ia bukan sekadar jeda makan dan minum, melainkan jeda bagi keserakahan, jeda bagi egoisme, dan jeda bagi hasrat akumulasi yang sering menggerus kepekaan sosial.
Dalam konteks tahun 2026, ketika perekonomian Indonesia dan dunia berada dalam ketidakpastian struktural, Ramadhan justru menjadi cermin yang paling jujur: sejauh mana masyarakat, negara, dan pelaku ekonomi memiliki empati terhadap mereka yang paling rentan.
Ekonomi 2026: Pertumbuhan yang Tidak Merata
Tahun 2026 diawali dengan suasana ekonomi yang ambigu. Di satu sisi, indikator makro menunjukkan stabilitas: inflasi relatif terkendali, pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran moderat, dan sektor keuangan masih likuid. Namun, di sisi lain, struktur ekonomi semakin timpang. Kesenjangan pendapatan melebar, kelas menengah tertekan, dan kelompok miskin semakin rentan terhadap fluktuasi harga pangan, energi, dan biaya pendidikan.
Fenomena jobless growth semakin terasa. Sektor digital, keuangan, dan industri ekstraktif mencatat keuntungan besar, tetapi tidak cukup menyerap tenaga kerja. Sementara sektor riil—pertanian, manufaktur padat karya, dan UMKM—mengalami tekanan biaya produksi dan permintaan yang tidak stabil. Dalam konteks ini, Ramadhan datang di tengah kegamangan sosial-ekonomi yang nyata.
Puasa sebagai Pendidikan Empati Ekonomi
Puasa dalam Islam tidak hanya mendidik ketakwaan, tetapi juga empati sosial. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah seorang mukmin yang kenyang sementara tetangganya lapar.” (HR. Thabrani)
Hadits ini menegaskan bahwa spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial. Dalam konteks ekonomi 2026, puasa seharusnya menjadi laboratorium empati: bagaimana kelas menengah dan atas merasakan ketidakpastian akses pangan, bagaimana kebijakan publik diuji oleh sensitivitas terhadap inflasi kebutuhan pokok, dan bagaimana solidaritas sosial menjadi bantalan krisis yang paling efektif.
Konsumsi, Inflasi Ramadhan, dan Etika Pasar
Ironisnya, Ramadhan sering kali menjadi bulan konsumsi berlebih. Pola belanja masyarakat meningkat drastis, harga pangan melonjak, dan spekulasi pasar merajalela. Fenomena Ramadhan inflation bukan sekadar isu ekonomi teknis, tetapi cerminan kegagalan etika pasar.
Puasa yang seharusnya mengendalikan nafsu justru dikalahkan oleh budaya konsumtif. Diskon, e-commerce, dan kredit konsumsi membanjiri ruang publik. Dalam kondisi ekonomi yang rapuh, perilaku ini memperparah tekanan pada rumah tangga miskin yang proporsi belanjanya didominasi kebutuhan dasar.
Zakat, Infaq, dan Wakaf sebagai Instrumen Stabilitas Sosial
Di tengah keterbatasan fiskal negara, instrumen ekonomi Islam seperti zakat, infaq, dan wakaf menjadi sangat relevan. Zakat bukan hanya ibadah individual, tetapi mekanisme redistribusi kekayaan yang terinstitusionalisasi. Jika dikelola optimal, potensi zakat nasional dapat menjadi automatic stabilizer sosial saat ekonomi melemah.
Wakaf produktif, khususnya dalam sektor pendidikan, kesehatan, dan UMKM, dapat menciptakan ekosistem ekonomi berbasis keberlanjutan. Di tahun 2026, ketika pembiayaan pembangunan semakin mahal, wakaf bisa menjadi alternatif pembiayaan sosial yang non-riba dan inklusif.
Ramadhan dan Kebijakan Publik yang Berkeadilan
Ramadhan seharusnya juga menjadi ujian bagi negara. Kebijakan stabilisasi harga pangan, subsidi energi, bantuan sosial, dan perlindungan UMKM diuji bukan hanya secara teknokratis, tetapi juga secara moral. Negara tidak boleh sekadar hadir sebagai regulator pasar, tetapi sebagai penjaga keadilan sosial.
Dalam perspektif ekonomi politik, Ramadhan mengingatkan bahwa legitimasi negara bukan hanya berasal dari pertumbuhan angka statistik, tetapi dari kemampuan melindungi kelompok paling rentan. Ketika harga beras naik, listrik mahal, dan transportasi publik tidak terjangkau, maka ketakwaan sosial negara patut dipertanyakan.
Refleksi: Puasa sebagai Kritik terhadap Kapitalisme Tanpa Empati
Secara filosofis, puasa adalah kritik paling radikal terhadap kapitalisme yang tak berbatas. Ia mengajarkan batas: batas konsumsi, batas akumulasi, dan batas eksploitasi. Dalam dunia yang semakin dikuasai logika pasar, puasa menawarkan logika alternatif: logika cukup, logika berbagi, dan logika keberlanjutan.
Ekonomi 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan tanpa empati hanya melahirkan ketimpangan struktural. Ramadhan, dengan seluruh ritual dan nilai sosialnya, menawarkan paradigma ekonomi yang lebih manusiawi: ekonomi yang menempatkan kesejahteraan kolektif di atas laba individual.
Konklusi: Dari Ibadah Individual ke Transformasi Sosial
Puasa Ramadhan tidak boleh berhenti sebagai ritual personal. Ia harus menjadi energi transformasi sosial-ekonomi. Kepekaan sosial yang lahir dari puasa harus diwujudkan dalam perilaku konsumsi yang bijak, solidaritas sosial yang nyata, dan kebijakan publik yang berpihak pada yang lemah.
Tahun 2026 adalah tahun ujian bagi ekonomi dan moral kolektif bangsa. Jika Ramadhan mampu menghidupkan kembali empati sosial, maka ia tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga bulan koreksi arah peradaban ekonomi. Sebab, di tengah ketidakpastian global, keadilan sosial bukanlah pilihan—ia adalah syarat keberlanjutan.
M. Fajar Shodiq : reporter tvkitenews.com, anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat










