Penulis: M. Fajar Shodiq
Editor: Redaktur tvkitenews
Lahat, tvkitenews.com – Di tengah arus perubahan global yang kian cepat, bangsa Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: bagaimana memastikan pembangunan berjalan “targeted, inclusive, and sustainable?” Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya terletak pada kebijakan negara, tetapi juga pada peran strategis dari organisasi masyarakat sipil yang telah lama berakar kuat. Salah satu organisasi yang tak terbantahkan kontribusinya bagi bangsa Indonesia adalah Muhammadiyah—sebuah gerakan Islam modernis yang sejak kelahirannya telah menempatkan pendidikan dan ekonomi sebagai pilar utama dalam mencerdaskan bangsa.
Kini, dalam momentum pendataan sosial ekonomi nasional seperti SE2026, relevansi Muhammadiyah semakin menemukan titik terang. Data menjadi fondasi pembangunan, dan Muhammadiyah memiliki ekosistem amal usaha yang secara nyata berkelindan dengan denyut kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi juga aktor pembangunan yang berperan aktif dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.

Muhammadiyah lahir pada tahun 1912 di Yogyakarta, di tengah kondisi masyarakat pribumi yang terbelakang secara pendidikan dan ekonomi akibat kolonialisme. Pendiri Muhammadiyah – Muhammad Darwis yang kemudian kita kenal dengan nama – KH Ahmad Dahlan, membaca realitas tersebut dengan jernih: umat Islam tidak akan bangkit tanpa ilmu, dan ilmu tidak akan berkembang tanpa sistem pendidikan yang kuat.
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah memilih jalan yang tidak populis, tetapi strategis: membangun sekolah. Di saat sebagian besar masyarakat masih berkutat dengan pendidikan tradisional yang terbatas, Muhammadiyah memperkenalkan sistem pendidikan modern dengan kurikulum yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum. Ini adalah revolusi diam-diam yang dampaknya terasa hingga hari ini.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya mencetak individu terdidik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya rasionalitas, disiplin, dan etos kerja. Pendidikan menjadi alat pembebasan dari kebodohan, sekaligus pintu masuk menuju kemandirian ekonomi.
Tidak berhenti di pendidikan, Muhammadiyah juga mengembangkan sektor ekonomi melalui koperasi, rumah sakit, hotel, media, yang terbaru adalah pabrik infus serta berbagai unit usaha lainnya. Ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi bentuk konkret dari dakwah sosial—mengangkat derajat umat melalui pemberdayaan.
Dalam perspektif ini, Muhammadiyah telah menjalankan apa yang kini disebut sebagai human development jauh sebelum konsep itu populer. Mereka tidak menunggu negara, tetapi bergerak lebih dulu.
Masuk ke era modern, pembangunan tidak lagi bisa mengandalkan intuisi semata. Dibutuhkan data yang akurat, komprehensif, dan mutakhir. Di sinilah peran strategis SE2026 sebagai pendataan sosial ekonomi nasional.
SE2026 bukan sekadar kegiatan statistik. Ia adalah upaya besar untuk memetakan kondisi riil masyarakat Indonesia: siapa yang miskin, siapa yang rentan, siapa yang membutuhkan intervensi, dan di sektor mana ketimpangan terjadi. Tanpa data, kebijakan hanya akan menjadi spekulasi.

Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045—sebuah visi besar ketika Indonesia genap berusia 100 tahun—data menjadi fondasi utama. Negara membutuhkan road map yang berbasis fakta, bukan asumsi. SE2026 menyediakan bahan bakar bagi perencanaan pembangunan yang lebih presisi.
Namun, data tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan aktor yang mampu menerjemahkannya menjadi aksi nyata. Di sinilah Muhammadiyah menemukan relevansinya kembali. Dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok desa, Muhammadiyah memiliki kemampuan untuk menjadi mitra strategis dalam pemanfaatan data SE2026.
Bayangkan jika data SE2026 menunjukkan daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan akses pendidikan rendah, Muhammadiyah dengan pengalaman panjangnya, dapat langsung masuk melalui pendirian sekolah, klinik, atau program pemberdayaan ekonomi. Ini adalah sinergi antara data dan aksi.
Salah satu kekuatan terbesar Muhammadiyah terletak pada amal usahanya. Dari sekolah, universitas, rumah sakit, hingga panti asuhan—semuanya bukan hanya layanan sosial, tetapi juga entitas ekonomi yang menggerakkan roda kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif SE2026, amal usaha Muhammadiyah dapat dilihat sebagai living data. Ia mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara nyata. Rumah sakit Muhammadiyah, misalnya, melayani berbagai lapisan masyarakat, dari yang mampu hingga yang tidak mampu. Dari situ, dapat dibaca pola kesehatan masyarakat, akses layanan, hingga kemampuan ekonomi pasien.
Begitu pula dengan sekolah dan universitas Muhammadiyah. Mereka tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Jika dilihat secara agregat, amal usaha Muhammadiyah merupakan salah satu jaringan ekonomi terbesar di Indonesia. Ia tidak terpusat pada satu titik, tetapi tersebar ke segenap penjuru Nusantara. Tidak berbasis profit semata, tetapi berorientasi pada kemaslahatan. Ini adalah model ekonomi sosial yang sangat relevan di era ketimpangan global saat ini.
Dalam konteks SE2026, keberadaan amal usaha ini dapat menjadi mitra strategis dalam validasi dan implementasi data. Misalnya, data menunjukkan kebutuhan layanan kesehatan di suatu wilayah—Muhammadiyah dapat merespons dengan memperkuat atau mendirikan fasilitas kesehatan di sana.
Lebih jauh lagi, amal usaha Muhammadiyah dapat menjadi lokomotif dalam pengembangan ekonomi umat. Dengan pendekatan berbasis komunitas, mereka mampu menciptakan kemandirian ekonomi yang tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan negara.
Menuju Indonesia Emas 2045, tantangan yang dihadapi tidak ringan: ketimpangan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi. Semua ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi antara negara dan masyarakat.
Muhammadiyah, dengan sejarah panjangnya, telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah. Mereka tidak menunggu kebijakan, tetapi menciptakan solusi. Di sisi lain, SE2026 menyediakan data yang memungkinkan solusi tersebut menjadi lebih tepat sasaran.
Sinergi antara keduanya dapat menciptakan model pembangunan yang ideal: berbasis data, digerakkan oleh masyarakat, dan didukung oleh nilai-nilai moral. Ini adalah kombinasi yang jarang dimiliki oleh negara lain.
Bayangkan sebuah Indonesia di mana setiap kebijakan didasarkan pada data yang akurat, dan setiap data ditindaklanjuti oleh gerakan masyarakat yang kuat. Muhammadiyah dapat menjadi jembatan antara keduanya—menghubungkan data dengan aksi, dan aksi dengan dampak.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga masa depan Indonesia. Mereka adalah bukti bahwa organisasi masyarakat sipil dapat menjadi aktor utama dalam pembangunan bangsa.
Pada akhirnya, pembahasan tentang Muhammadiyah dalam perspektif SE2026 membawa kita pada satu kesimpulan penting: pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada negara. Dibutuhkan peran aktif masyarakat, dan Muhammadiyah telah menunjukkan bagaimana peran itu dijalankan secara konsisten selama lebih dari satu abad.
Dari pendidikan hingga ekonomi, dari dakwah hingga pemberdayaan, Muhammadiyah telah menjadi pilar peradaban yang kokoh. Dalam era data seperti sekarang, peran tersebut justru semakin penting.
SE2026 memberikan arah. Muhammadiyah memberikan gerak. Dan Indonesia Emas 2045 adalah tujuan bersama. Jika ketiganya dapat berjalan selaras, maka optimisme bukan lagi sekadar wacana, tetapi keniscayaan.
Referensi
– Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Berbagai publikasi resmi tentang sejarah dan amal usaha Muhammadiyah).
– Badan Pusat Statistik (BPS). (Dokumen dan konsep SE2026).
– Kementerian PPN/Bappenas. (Visi pembangunan Indonesia Emas 2045).
– Haedar Nashir. Muhammadiyah Gerakan Pembaruan.
– Alfian. Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization under Dutch Colonialism.
M. Fajar Shodiq: Reporter tvkitenews.com, Mitra BPS Lahat, Anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat













