Penulis : Wisastiawan, Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Tridinanti Palembang
Editor : Redaktur tvkitenews
Data statistik memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Indonesia. Sektor pertanian tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak penduduk, membuka lapangan kerja, dan menjaga stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, pembangunan pertanian membutuhkan data yang akurat dan terpercaya sebagai dasar dalam merencanakan kebijakan, menentukan prioritas pembangunan, serta mengevaluasi keberhasilan program pemerintah. Badan Pusat Statistik memiliki tugas untuk memotret langsung kondisi pertanian melalui 2 kegiatan, yaitu Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dan Survei Ubinan, dimana 2 kegiatan ini memiliki fungsi strategis dalam menyediakan informasi mengenai luas panen, produktivitas, dan produksi tanaman pangan.

Survei Kerangka Sampel Area (KSA) berfungsi untuk menyediakan data luas panen melalui pengamatan fase pertumbuhan tanaman pada titik-titik sampel yang tersebar di wilayah pertanian. Data ini membantu pemerintah memantau perkembangan pertanaman dan memperkirakan luas panen secara lebih objektif. Sementara itu, Survei Ubinan berfungsi untuk memperoleh informasi produktivitas tanaman melalui pengukuran hasil panen pada petak sampel. Kedua survei tersebut saling melengkapi dalam menghasilkan informasi statistik yang dibutuhkan untuk memperkirakan produksi tanaman pangan dan mendukung kebijakan ketahanan pangan.
Di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2025. Berdasarkan data hasil Suvei KSA dan Survei Ubinan, luas panen padi mencapai 636,32 ribu hektar, meningkat sebesar 22,11% dibandingkan tahun 2024. Produksi padi mencapai 3,63 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat sebesar 24,67% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 2,08 juta ton.
Peningkatan luas panen dan produksi padi di Sumatera Selatan tersebut menunjukkan perkembangan yang positif bagi pembangunan pertanian daerah. Kenaikan produksi padi sebesar 24,67% lebih tinggi daripada kenaikan luas panen sebesar 22,11%. Hal ini mengindikasikan bahwa secara agregat produksi meningkat lebih cepat daripada luas panen.
Informasi tersebut memperlihatkan bagaimana data statistik dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangan pertanian secara lebih terukur. Data KSA membantu menjelaskan perubahan luas panen yang berkontribusi terhadap peningkatan produksi, sedangkan data Ubinan membantu menilai hasil panen per satuan luas. Dengan menggabungkan kedua sumber informasi tersebut, pemerintah dapat mengidentifikasi apakah peningkatan produksi terutama didorong oleh bertambahnya luas panen, membaiknya produktivitas, atau kombinasi keduanya.
Selain itu, capaian produksi beras sebesar 2,08 juta ton untuk konsumsi penduduk dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan kebutuhan dan distribusi pangan di Sumatera Selatan yang memiliki 9,01 juta penduduk. Informasi ini dapat membantu pemerintah memperkirakan ketersediaan beras, menyusun strategi pengelolaan cadangan pangan, dan mengantisipasi potensi ketidakseimbangan pasokan antarwilayah. Meskipun demikian, penilaian mengenai kecukupan pangan dan surplus beras perlu mempertimbangkan kebutuhan konsumsi penduduk, arus perdagangan antarwilayah, serta perubahan stok beras.
Di sisi lain, data statistik tidak seharusnya hanya digunakan untuk mencatat keberhasilan peningkatan produksi, tetapi juga menjadi dasar untuk menentukan langkah pembangunan berikutnya. Pemerintah perlu memanfaatkan data KSA dan Ubinan untuk mengidentifikasi wilayah dengan produktivitas rendah, mengevaluasi dampak penggunaan benih unggul dan pupuk, memperbaiki sistem irigasi, serta meningkatkan pendampingan kepada petani. Dengan demikian, kebijakan yang diambil dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap wilayah.
Peningkatan produksi harus diikuti dengan upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Perluasan luas panen perlu diimbangi dengan perlindungan lahan pertanian, pengelolaan sumber daya air, penggunaan sarana produksi yang efisien, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Statistik yang berkualitas dapat membantu pemerintah memantau perkembangan tersebut dan mengevaluasi apakah pembangunan pertanian tidak hanya meningkatkan produksi dalam jangka pendek, tetapi juga menjaga kemampuan produksi untuk masa mendatang.
Kesimpulannya, data statistik hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dan Survei Ubinan memiliki fungsi strategis dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Sumatera Selatan. Peningkatan luas panen dari 521,09 ribu hektar pada tahun 2024 menjadi 636,32 ribu hektar pada tahun 2025, kenaikan produksi padi dari 2,91 juta ton menjadi 3,63 juta ton GKG, serta peningkatan produksi beras dari 1,67 juta ton menjadi 2,08 juta ton menunjukkan pentingnya statistik dalam memantau perkembangan produksi pangan. Selain itu, informasi puncak panen pada Februari 2025 seluas 82,27 ribu hektar dapat membantu perencanaan penyerapan dan distribusi hasil panen. Menurut saya, apabila data tersebut dimanfaatkan secara akurat, terpadu, dan berkelanjutan, pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan demikian, data statistik bukan sekadar kumpulan angka, melainkan landasan penting dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang efektif, berdaya saing, dan berkelanjutan.












