Reporter: M. Fajar Shodiq
Editor: Redaktur tvkitenews
Lahat, tvkitenews.com – Satu per satu kebutuhan dasar SD Negeri 10 Merapi Barat, Desa Purwosari, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, mulai mendapat perhatian. Tahun anggaran 2026, sekolah ini mendapatkan bantuan pembangunan sumur bor dan rehabilitasi rumah dinas.
Namun, di balik kabar baik tersebut, masih ada pekerjaan rumah yang menunggu perhatian. Musholla belum tersedia, sementara halaman sekolah masih membutuhkan perkerasan.

Kepala SDN 10 Merapi Barat, Nur Agus, S.Pd., menyampaikan hal itu di sela-sela tasyakuran purna tugas salah seorang guru, Supatmi, S.Pd., Senin (21/9/2026).
Agus mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Lahat terhadap sekolah yang dipimpinnya. Ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Lahat Bursah Zarnubi dan Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih, SH, MH, melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Lahat, Niel Aldrin, S.E., M.AP.

Menurutnya, dua bantuan tersebut cukup berarti bagi sekolah.
Rumah dinas yang sebelumnya sudah tidak layak huni, setelah selesai perehaban nanti kembali dapat ditempati.
“Alhamdulillah, sebelumnya rumah dinas sudah tidak layak huni. Dengan adanya perehaban ini, yang saat ini sedang berproses, pada waktunya nanti menjadi layak huni,” ujar Agus.
Persoalan air bersih juga selama ini menjadi salah satu kendala sekolah.
Sebelum memiliki sumur bor, kebutuhan air mengandalkan sumur gali yang debitnya terbatas. Ketika musim kemarau datang, persoalan semakin terasa karena sumber air tersebut bahkan bisa mengering.
“Apalagi ketika kemarau, sumur tersebut mengering dan kami kesulitan air bersih. Alhamdulillah, dengan adanya sumur bor ini sangat membantu untuk mencukupi ketersediaan air bersih,” katanya.

Dengan adanya sumur bor, Agus berharap persoalan ketersediaan air bersih tidak lagi menjadi hambatan bagi aktivitas sekolah.
Meski dua kebutuhan penting telah teratasi, Agus mengakui masih ada fasilitas yang perlu dibenahi. Salah satunya adalah musholla.
Menurutnya, keberadaan musholla sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah. Selain itu, halaman sekolah juga membutuhkan perkerasan agar lebih nyaman dan layak digunakan untuk berbagai aktivitas siswa.
“Kami berharap bisa membangun musholla untuk kegiatan keagamaan di sekolah dan halaman sekolah yang memerlukan perhatian untuk perkerasan,” harapnya.
Agus berharap kebutuhan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dapat dibangun melalui sinergi dengan pihak swasta maupun perusahaan yang berada di sekitar Desa Purwosari. Harapan tersebut bukan tanpa alasan.
Sejumlah perusahaan yang beroperasi di sekitar Desa Purwosari memiliki keterkaitan langsung dengan SDN 10 Merapi Barat karena anak-anak karyawannya bersekolah di sekolah tersebut.
Agus menyebut PT Perkebunan Nusantara 1 Regional 7 Kebun Senabing, perusahaan plat merah yang bergerak di bidang perkebunan karet. Anak-anak karyawan perusahaan tersebut tercatat bersekolah di SDN 10 Merapi Barat.
Selain itu, terdapat PT Bumi Sawit Permai (BSP) Site SENE, perusahaan perkebunan kelapa sawit, yang sebagian anak karyawannya juga menempuh pendidikan di SDN 10 Merapi Barat.
Begitu pula PT Indah Jaya Abadi Permai (IJAP) yang bergerak di bidang pertambangan.
Menurut Agus, kondisi tersebut membuka ruang untuk membangun sinergi antara sekolah dan dunia usaha melalui kepedulian terhadap fasilitas pendidikan.
“Kami berharap ada sinergi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar Desa Purwosari. Masih ada beberapa kebutuhan sekolah yang membutuhkan perhatian,” ujarnya.
Bagi SDN 10 Merapi Barat, sumur bor dan rumah dinas yang telah direhabilitasi menjadi langkah maju. Tetapi bagi sekolah yang menjadi tempat anak-anak masyarakat dan pekerja sekitar menimba ilmu, perjalanan memperbaiki fasilitas pendidikan belum selesai.
Kini, musholla dan halaman sekolah menjadi dua pekerjaan rumah berikutnya yang diharapkan mendapat perhatian.












