Reporter : M Fajar Shodiq
Editor : Redaktur tvkitenews
Lahat, tvkitenews.com – Awal April ini, Badan Pusat Statistik (BPS) menggelar survei jasa pariwisata secara serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk memotret secara komprehensif karakteristik usaha di sektor akomodasi, penyediaan makanan dan minuman, serta kondisi tenaga kerja, pendapatan, pengeluaran, hingga aset usaha.
Termasuk di dalamnya, Kabupaten Lahat turut ambil bagian dalam pelaksanaan survei tersebut.
Survei ini dibagi dalam dua kategori. Pertama, usaha menengah dan besar yang mencakup 28 provinsi dan 70 kabupaten/kota. Kedua, usaha menengah dan kecil yang menjangkau 38 provinsi serta 340 kabupaten/kota.
Kabupaten Lahat sendiri mengambil sampel 3 destinasi wisata yaitu Ribang Kemambang, Water Boom di desa Tanjung Payang dan Lematang Riverside di desa Kota Raya.
Sementara untuk bidang Pengelolaan Makanan dan Minuman ada 9 Satuan Lingkungan Setempat (SLS) yang akan di survei. Yaitu Desa Jati Dusun 1, Kelurahan Bandar Agung RT 009/003, 015/005, 018/006; kelurahan Pagar Agung RT 008/003, Kelurahan Pasar Lama RT 007/003 dan 009/003, Kelurahan Kota Negara RT 006/002 serta Kelurahan Talang Jawa Utara RT 006/002.

Kepala BPS Kabupaten Lahat, Dedi Fahlevi, M.Si. menegaskan pentingnya survei ini dalam pembukaan pelatihan petugas lapangan mitra BPS. Menurutnya, data yang dihasilkan akan menjadi dasar penting dalam merancang kebijakan pemerintah ke depan, khususnya di daerah.
“Survei jasa pariwisata ini sangat strategis untuk menentukan arah pembangunan, terutama bagi Kabupaten Lahat,” ujarnya.
Selama ini, Lahat dikenal sebagai daerah penyangga bagi destinasi wisata Pagar Alam. Namun, menurut Dedi, kondisi tersebut justru menjadi peluang.
“Sebagai daerah penyangga, kita harus mampu mengambil bagian dari kue ekonomi pariwisata,” katanya.
Berdasarkan data statistik, sektor jasa pariwisata—yang mencakup akomodasi serta makanan dan minuman—mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibanding sektor lain, bahkan mencapai lebih dari 9 persen.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini semakin gemar berwisata, baik wisata alam, budaya, maupun kuliner.
Disisi lain disebutkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Lahat tergolong rendah, sekitar 2,9 persen—lebih kecil dari rata-rata provinsi dan nasional—tantangan lain justru muncul dari kualitas tenaga kerja.
Sebagian besar tenaga kerja, sekitar 53 persen, masih terserap di sektor pertanian dengan tingkat pendidikan maksimal SMP. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penghambat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, sektor pertambangan yang menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar—sekitar 52 persen—ternyata tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal.
“Sektor pertambangan itu padat modal, bukan padat karya. Hanya sekitar 5 persen tenaga kerja lokal yang terserap, itu pun sebagian besar pekerjaan kasar,” jelasnya.
Dedi juga menyoroti potensi besar Lahat yang selama ini belum dimaksimalkan, yakni kekayaan situs megalitikum yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Menurutnya, jika dikelola secara profesional, potensi ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pusat studi internasional.
“Ini aset luar biasa. Tidak akan habis seperti tambang. Efek gandanya juga sangat besar bagi ekonomi masyarakat,” imbuhnya.
Di akhir arahannya, Dedi berpesan kepada seluruh petugas lapangan agar bekerja secara profesional dan menjaga kualitas data.
“Data yang dikumpulkan ini akan menjadi pedoman kebijakan pemerintah. Jadi harus benar-benar akurat,” tegasnya.
Dengan survei ini, diharapkan arah pembangunan sektor pariwisata di Lahat semakin jelas—bukan sekadar menjadi daerah penyangga, tetapi juga tumbuh sebagai destinasi unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menyerap tenaga kerja.









