Penulis  M. Fajar Shodiq

Editor : Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Perang itu jauh. Di Timur Tengah sana. Tapi getarannya terasa sampai ke dapur kita. Ketika rudal-rudal meluncur antara Israel dan Iran, dengan bayang-bayang keterlibatan Amerika Serikat, yang bergetar bukan hanya tanah Gaza atau Teheran. Pasar minyak dunia langsung melonjak. Bursa saham limbung. Dolar menguat. Emas diburu.

Dan Indonesia? Kita memang tidak ikut perang. Tapi ekonomi kita ikut berdebar. Sejarah sudah berkali-kali mengajarkan: setiap kali Timur Tengah panas, harga energi dunia ikut membara. Dan ketika harga energi terbakar, negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia ikut tersengat.

Pertanyaannya sederhana: apa untung ruginya bagi kita? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Perang dan Minyak adalah hubungan yang tidak pernah putus. Timur Tengah bukan kawasan biasa. Di sanalah jantung energi dunia berdetak. Jalur distribusi minyak global melewati titik-titik krusial seperti Selat Hormuz. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi selat sempit itu setiap hari.

Bayangkan jika jalur itu terganggu. Tak perlu benar-benar ditutup. Cukup ada ancaman. Cukup ada satu serangan kapal. Pasar sudah panik. Harga minyak naik bukan semata karena pasokan berkurang. Tapi karena ketakutan. Dan ekonomi global sangat sensitif terhadap ketakutan.

Indonesia hari ini bukan lagi eksportir minyak seperti era 1980-an. Kita adalah net importir. Artinya, setiap kenaikan harga minyak dunia adalah tambahan beban bagi APBN. Subsidi energi membengkak. Defisit terancam melebar.

Jika harga minyak dunia bertahan tinggi—katakanlah di atas USD 100 per barel—maka pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga BBM atau menambah subsidi. Keduanya tidak populer. Keduanya mahal secara politik dan fiskal.

Dampak Pertama: Rupiah dalam Tekanan. Dalam situasi perang, investor global cenderung mencari tempat aman. Mereka menarik dana dari emerging markets dan memarkirkannya di dolar AS atau emas.

Itu sebabnya setiap ada konflik besar, mata uang negara berkembang sering melemah. Rupiah bukan pengecualian.

Ketika rupiah melemah, biaya impor naik. Bukan hanya impor minyak. Tapi juga bahan baku industri, pangan, dan barang modal. Efeknya berantai. Inflasi mengintai.

Bank Indonesia bisa intervensi. Cadangan devisa bisa digunakan. Tapi intervensi bukan solusi permanen jika tekanan global berkepanjangan.

Harga energi naik. Biaya transportasi naik. Ongkos distribusi naik. Pada akhirnya harga bahan pokok ikut terdorong. Masyarakat kelas menengah mungkin masih bisa bertahan. Tapi kelompok rentan akan paling merasakan.

Inflasi bukan hanya angka statistik. Ia adalah penggerus daya beli. Jika inflasi tinggi sementara pertumbuhan ekonomi melambat karena ketidakpastian global, kita menghadapi risiko klasik: pertumbuhan tertahan, harga naik. Kombinasi yang tidak sehat.

Tapi tunggu dulu. Tidak semua buruk. Di tengah ancaman itu, ada peluang. Indonesia adalah negara komoditas. Batu bara, CPO, nikel—semua itu komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika global.

Ketika dunia dilanda ketidakpastian, harga komoditas sering kali justru menguat. Negara-negara industri membutuhkan energi alternatif. Batu bara kita bisa kembali diburu. Permintaan nikel untuk baterai dan kendaraan listrik tetap tinggi.

Jika harga komoditas naik signifikan, ekspor Indonesia terdorong. Neraca perdagangan bisa surplus lebih besar. Devisa masuk.

Ini paradoks perang: di satu sisi kita dirugikan sebagai pengimpor minyak, di sisi lain kita diuntungkan sebagai eksportir komoditas.

Masalahnya adalah keseimbangan. Apakah keuntungan ekspor cukup besar untuk menutup lonjakan biaya impor energi?

Di sinilah pertarungan paling nyata terjadi. Di meja anggaran. Kementerian Keuangan harus berhitung cepat. Jika harga minyak dunia naik, asumsi makro dalam APBN bisa meleset. Subsidi dan kompensasi energi berpotensi membengkak.

Jika subsidi dipertahankan besar-besaran, defisit melebar. Jika subsidi dikurangi, harga dalam negeri naik. Pilihan apa pun mengandung risiko.

Namun Indonesia hari ini tidak sama dengan 1998. Cadangan devisa relatif kuat. Rasio utang terhadap PDB masih terkendali. Sistem perbankan lebih solid. Artinya, secara fundamental kita lebih siap menghadapi guncangan dibanding era krisis dulu. Tapi kesiapan bukan berarti kebal.

Perang bukan hanya soal minyak. Ia juga menyentuh logistik global.

Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran internasional, biaya pengiriman melonjak. Premi asuransi kapal naik. Waktu tempuh bertambah.

Industri manufaktur Indonesia yang bergantung pada bahan baku impor akan terdampak. Biaya produksi meningkat. Margin tertekan. Dalam jangka pendek, dunia usaha cenderung menahan ekspansi. Investor menunda keputusan. Proyek-proyek besar bisa tertunda. Ketidakpastian adalah musuh investasi.

Di balik semua risiko itu, ada pelajaran penting. Ketergantungan pada impor energi adalah titik lemah kita.

Setiap konflik global membuka mata bahwa transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan. Ia adalah agenda kedaulatan. Jika pemerintah serius mendorong energi terbarukan—surya, panas bumi, bioenergi—maka krisis global bisa menjadi momentum percepatan transformasi.

Indonesia punya potensi panas bumi terbesar di dunia. Kita punya sinar matahari melimpah. Kita punya bahan baku biofuel. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat kita bergerak?

Skenario terburuk adalah perang meluas. Infrastruktur energi di kawasan hancur. Selat Hormuz benar-benar terganggu. Harga minyak melonjak drastis dan bertahan lama.

Dalam situasi itu, tekanan terhadap APBN berat. Inflasi tinggi. Pertumbuhan melambat. Rupiah tertekan.

Skenario terbaik adalah konflik mereda cepat. Harga minyak hanya naik sementara. Pasar kembali stabil. Indonesia mendapat keuntungan ekspor tanpa menanggung beban berkepanjangan. Realitas mungkin berada di tengah-tengah.

Jadi, Untung atau Rugi?Jawabannya: kkeduanya Rugi karena kita masih tergantung pada impor energi. Rugi karena inflasi mengancam daya beli. Rugi karena ketidakpastian menekan investasi.

Tapi juga untung karena komoditas kita dibutuhkan dunia. Untung karena neraca perdagangan bisa terdongkrak. Untung jika pemerintah cerdas memanfaatkan momentum untuk mempercepat reformasi energi.

Pada akhirnya, perang ini menjadi cermin. Ia memantulkan kelemahan struktural ekonomi kita. Tapi juga menunjukkan potensi kekuatan yang bisa dioptimalkan.

Ekonomi global ibarat lautan. Ketika badai datang di satu sisi, gelombangnya sampai ke sisi lain. Indonesia tidak bisa menghindar dari ombak itu. Tapi kita bisa memperkuat kapal.

Kuncinya ada pada kebijakan yang cepat, tepat, dan berani. Perang Israel–AS vs Iran mungkin tidak kita pilih. Tapi bagaimana kita merespons dampaknya—itulah pilihan kita. Dan di situlah masa depan ekonomi kita dipertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *