(dua dari tiga tulisan tentang peran penting SE2026)
Oleh : M Fajar Shodiq
Editor : Redaktur tvkitenews
Prolog: Ketika Pasar Bergejolak, Mesin Tetap Harus Menyala
tvkitenews.com – Awal 2026 dibuka dengan kegelisahan. Pasar keuangan Indonesia bergejolak hebat pada akhir Januari, ditandai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), trading halt, serta mundurnya pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan beberapa Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peristiwa ini segera menjadi sorotan regional bahkan global, karena terjadi pada ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Gejolak ini tidak boleh dibaca semata sebagai fluktuasi pasar. Ia adalah cermin sensitif dari kepercayaan investor, kredibilitas institusi, dan konsistensi kebijakan. Namun di saat yang sama, kegaduhan pasar jangka pendek tidak serta-merta menggambarkan kerusakan mesin ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Justru di titik inilah pentingnya membaca ekonomi Indonesia secara utuh: dari makro hingga mikro, dari nasional hingga regional, dari hari ini hingga visi jangka panjang Indonesia Emas.
Indonesia: Mesin Terbesar ASEAN Pasca Pandemi
Indonesia adalah mesin utama ASEAN. Lebih dari 40 persen PDB kawasan disumbang Indonesia, dengan pasar domestik raksasa dan struktur ekonomi yang relatif seimbang antara konsumsi, investasi, dan ekspor.
Pasca pandemi Covid-19, Indonesia termasuk negara yang mampu melakukan pemulihan relatif cepat dibanding banyak negara berkembang lain.
Pandemi memang meninggalkan luka struktural: produktivitas yang tertahan, kualitas tenaga kerja yang timpang, serta ketergantungan pada sektor informal.
Namun, pandemi juga membuktikan satu hal penting: ekonomi Indonesia memiliki bantalan kuat dari konsumsi domestik dan ekonomi mikro.
Dalam periode 2024–2029, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar recovery, melainkan acceleration. Tanpa percepatan, Indonesia berisiko terjebak dalam pertumbuhan moderat yang tidak cukup untuk melompat ke negara berpendapatan tinggi.
Makro Ekonomi 2026: Stabil tapi Rentan
Secara makro, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada di kisaran 4,8–5,7 persen. Angka ini menunjukkan stabilitas, tetapi belum cukup agresif untuk mengejar visi jangka panjang Indonesia Emas 2045.
Inflasi pada awal 2026 tercatat meningkat, didorong oleh normalisasi harga energi dan tekanan permintaan domestik. Di sisi lain, neraca perdagangan masih mencatat surplus, didukung ekspor komoditas utama seperti nikel, CPO, dan produk turunan mineral.
Namun stabilitas ini bersifat rapuh. Tekanan eksternal—mulai dari kebijakan suku bunga global, ketegangan geopolitik, hingga volatilitas arus modal—membuat ekonomi Indonesia sangat sensitif terhadap persepsi pasar. Gejolak pasar Januari 2026 menjadi bukti bahwa kepercayaan bisa runtuh lebih cepat daripada fundamental memburuk.
ASEAN dan Peran Sentral Indonesia
Dalam konteks regional, Indonesia bukan sekadar anggota ASEAN, melainkan jangkar stabilitas kawasan. Ketika ekonomi Indonesia bergejolak, sentimennya menular ke kawasan. Sebaliknya, ketika Indonesia stabil, ASEAN ikut diuntungkan.
Vietnam, Thailand, dan Filipina menunjukkan pertumbuhan sektor tertentu yang agresif, terutama manufaktur dan digital. Namun Indonesia tetap menjadi pusat gravitasi permintaan, investasi regional, dan kepemimpinan geopolitik ekonomi.
Karena itu, stabilitas ekonomi Indonesia bukan hanya kepentingan nasional, tetapi juga kepentingan kawasan. Ketidakpastian institusional di Indonesia akan langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko kawasan.
SE2026 sebagai Kompas Menuju Indonesia Emas
SE2026 dapat dibaca sebagai penanda arah: apakah Indonesia sekadar menjaga mesin tetap menyala, atau mulai meng-upgrade mesinnya.
Dokumen RPJMN 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045 menargetkan lonjakan produktivitas, industrialisasi bernilai tambah, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tanpa reformasi struktural—mulai dari pendidikan, pasar tenaga kerja, hingga pendalaman pasar keuangan—pertumbuhan 5 persen akan menjadi plafon, bukan pijakan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak perusahaan menengah dan besar yang produktif, bukan hanya jutaan usaha mikro yang bertahan hidup. Transformasi inilah yang akan menentukan apakah bonus demografi menjadi berkah atau beban.
Stabilitas Pemerintahan, Kepastian Hukum, dan Keamanan Investasi
Tidak ada investasi jangka panjang tanpa kepastian hukum. Tidak ada pertumbuhan berkelanjutan tanpa stabilitas pemerintahan. Gejolak pasar 2026 memberi pelajaran mahal bahwa persepsi terhadap institusi sama pentingnya dengan indikator makro.
Investor tidak hanya membaca angka PDB, tetapi juga membaca konsistensi regulasi, independensi lembaga, dan kemampuan negara mengelola konflik kepentingan. Reformasi kelembagaan bukan agenda elitis, melainkan kebutuhan ekonomi.
Ekonomi Mikro: Tulang Punggung yang Tak Boleh Rapuh
Di balik statistik makro, ekonomi mikro tetap menjadi tulang punggung mesin Indonesia. UMKM menyerap mayoritas tenaga kerja dan menjaga daya beli masyarakat. Ketika krisis datang, sektor inilah yang menjadi peredam guncangan.
Namun ketergantungan berlebihan pada ekonomi mikro juga memiliki batas. Tantangan ke depan adalah menaikkan kelas ekonomi mikro agar terhubung dengan ekosistem industri, teknologi, dan pembiayaan formal.
Penutup: Mesin Harus Diperbaiki, Bukan Sekadar Dipanaskan
SE2026 adalah momentum refleksi.
Indonesia tidak sedang runtuh, tetapi juga belum melesat. Mesin ekonomi masih menyala, namun membutuhkan perawatan serius dan peningkatan kapasitas.
Gejolak pasar harus dibaca sebagai alarm, bukan vonis. Jika Indonesia mampu memperkuat institusi, menjaga stabilitas politik, meningkatkan kepastian hukum, dan mendorong transformasi produktivitas, maka krisis kepercayaan dapat diubah menjadi titik balik.
Indonesia Emas tidak akan datang dengan sendirinya. Ia harus dibangun—dengan mesin ekonomi yang lebih kuat, lebih adil, dan lebih tahan uji.
Daftar Referensi
Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Indonesia 2024–2026.
Bank Indonesia. Outlook Ekonomi Indonesia 2026.
Kementerian Keuangan RI. APBN Kita dan Nota Keuangan 2026.
Otoritas Jasa Keuangan. Laporan Stabilitas Sistem Keuangan.
IMF. World Economic Outlook 2025–2026.
World Bank. Indonesia Economic Prospects.
OECD. OECD Economic Outlook: Indonesia.
Asian Development Bank. Asian Development Outlook.
Reuters. Laporan pasar keuangan Indonesia, Januari–Februari 2026.
Financial Times. Analisis pasar dan investasi Indonesia.
McKinsey Global Institute. The Enterprising Archipelago.
Bappenas. RPJMN 2025–2029 dan Visi Indonesia Emas 2045.

*)Penulis adalah reporter tvkitenews.com, pemerhari ekonomi, sosial dan lingkungan. Anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat.






