Penulis: M. FAJAR SHODIQ

Editor: Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com

Prolog: Negeri Kaya Alam & Ancaman Energi ‘Asap Hitam’

Bayangkan Indonesia sebagai kampung super kaya: punya matahari yang setiap hari “nyengat”, angin yang berhembus dari Sabang sampai Merauke, sungai-sungai deras sampai yang cuma berliku, serta gunung-gunung berapi yang literally menyimpan energi panas bumi siap pakai.

Surga energi terbarukan, bukan?

Namun faktanya:

👉 Pada 2024, kapasitas pembangkit PLTU batu bara di Indonesia mencapai sekitar 86 GW, sedangkan energi terbarukan baru 15,1 GW atau hanya sekitar 14,6% dari total kapasitas nasional. Artinya lebih dari 85% listrik kita masih berasal dari energi fosil yang berpolusi tinggi. 

Kalau kita perhatikan, ceritanya mirip dengan orang yang punya peternakan jeruk terbaik di dunia… tapi tiap pagi tetap ngopi manis pakai gula olahan minyak goreng.

Jadi pertanyaannya: kenapa kita tetap pilih yang beracun?

Sebelum kita lolos dari absurd ini, mari kita lihat dulu perbandingan terperinci antara kedua “klub besar” energi ini.

Energi Terbarukan Itu Apa, Siapa, dan Kenapa Begitu Murah Sekarang

Energi terbarukan yang paling banyak dibicarakan adalah:

Tenaga surya (solar)

Tenaga angin (wind)

Tenaga air (hydro)

Panas bumi (geothermal)

💡 1. Biaya Ekonomi Energi Terbarukan

Terobosan teknologi dan scale-up industri global membuat energi terbarukan semakin murah dibanding energi fosil — bahkan banyak studi independen sudah menyatakan hal ini.

📌 Menurut laporan IRENA (2024):

Biaya rata-rata tenaga angin darat sekitar US$0,034/kWh.

Biaya rata-rata tenaga solar PV sekitar US$0,043/kWh.

Lebih dari 90% proyek energi terbarukan yang dikembangkan global pada 2024 lebih murah dibanding energi fosil baru manapun. 

Artinya, secara ekonomi murni (tanpa subsidi atau politik energi), energi terbarukan bukan lagi sesuatu yang “mahal dan eksotis” — tapi justru lebih murah untuk produksi listrik bersih dibanding batubara atau gas baru.

👉 Di Indonesia sendiri, harga listrik dari PLTB (angin) yang baru bertumbuh atau PLTS (matahari) sudah di bawah US$6 sen/kWh — ini kompetitif bahkan melebihi harga listrik dari PLTU batubara bila dihitung tanpa subsidi. 

💡 2. Tren Biaya Turun Dramatis

Lihat ini:

✨ Sepanjang dekade terakhir, biaya instalasi PLTS turun hingga sekitar 90%, biaya baterai penyimpanan turun ~90%, dan biaya PLTB turun ~60% — menurut data riset lembaga energi. 

Bayangkan: kita dulu mikir panel surya seperti mobil mewah, tapi sekarang malah kayak motor listrik murah yang makin mudah diakses.

Fosil: Meski Murah Kelihatannya, Itu Hanya Bagian Ceritanya

Energi fosil — khususnya batubara — sering dipuji sebagai “energi murah, andal, dan stabil.” Padahal yang terjadi di belakang layar sangat berbeda. 

🛢️ 1. Biaya Tersembunyi Energi Fosil

Jika cuma melihat harga jual listrik di tarif pelanggan, betul, batubara terlihat murah (sekitar 4–6 sen/kWh di Indonesia saat ini). 

Tapi pernah dihitung biaya eksternalnya? Itu lho biaya yang tidak muncul di tagihan listrik, tapi dibayar oleh lingkungan, kesehatan masyarakat, dan generasi mendatang. 

📊 Studi ekonomi di Amerika Serikat misalnya menemukan bahwa biaya kesehatan akibat polusi energi fosil mencapai:

Antara US$0,19 – US$0,45 per kWh untuk tenaga coal/oil.

Total kerugian kesehatan tahunan diperkirakan US$361,7 – US$886,5 miliar, atau sekitar 2,5–6% dari GDP AS. 

Bayangkan kalau kita hitung angka yang sama di Indonesia:

Polusi udara menyebabkan biaya perawatan rumah sakit, turunnya produktivitas, meningkatnya penyakit pernapasan di anak & lansia, bahkan kematian prematur.

Ini yang disebut biaya ekonomi sebenarnya, tetapi biasanya pemerintah atau perusahaan tidak memasukkannya ke dalam perhitungan LCOE (Levelized Cost of Electricity).

🦠 2. Dampak Lingkungan yang Tidak Murah

Menurut riset biaya lingkungan di Indonesia, sektor listrik berasal dari energi fosil bertanggung jawab atas biaya kerusakan lingkungan yang mendekati ± Rp 898 triliun pertahun jika dimonetisasi — hanya dari aspek emisi karbonnya saja. 

Ya betul: hampir seribu triliun rupiah yang seharusnya bisa dipakai untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur — malah tersedot hanya karena kita memilih sumber energi yang “lebih enak asapnya.”

Ini belum termasuk kerugian biologis akibat rusaknya ekosistem, degradasi tanah, air, dan laut akibat pertambangan batubara.

Perbandingan Terang Terangan: Manfaat vs Mudharat

📉 Fakta yang Seharusnya Tidak Mengejutkan

Energi terbarukan bukan sekadar “alternatif” — ia terbukti secara ekonomi kompetitif di banyak negara, bahkan lebih murah daripada batubara bila dihitung secara komprehensif. 

Jadi kalau masih ada yang bilang energi terbarukan lebih mahal, itu artinya: “Kita lebih suka yang beracun karena kita belum menghitung apa arti beracun itu pada biaya nyata hidup manusia.”

Indonesia: Surga Energi Terbarukan yang Kerap Dipinggirkan

Indonesia punya segalanya:

☀️ Matahari tropis sepanjang tahun

💨 Angin laut yang potensial

🌊 Sungai & pegunungan untuk hidro

🔥 Panas bumi melimpah

Tapi sampai sekarang, pengembangan energi terbarukan masih tertinggal — konflik kepentingan, subsidi batubara, serta kebijakan yang belum berpihak penuh ke energi bersih menjadi biang keladinya. 

Ini seperti punya warung es kelapa muda di tengah gurun pasir, tapi tetap jualan teh hangat karena “itu yang orang sudah biasa minum.”

Konklusi: Memilih Hidup, Bukan Racun

Kalau aura satirnya kita tarik lurus:

Kita memilih energi fosil bukan karena itu lebih murah secara total — tetapi karena itu sudah sejak lama kita biasakan. Dan kebiasaan ini membuat generasi kita dibayar mahal dengan polusi, penyakit, dan kerusakan lingkungan.

Dalam pandangan Islam, bahkan prinsip sederhana tentang mudharat dan manfaat pun sudah mengajarkan kita hal ini. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Menghilangkan mudharat didahulukan daripada mengambil manfaat.”

Kalau energi fosil membawa mudharat besar — mulai dari rumah sakit yang penuh, anak-anak yang sesak napas, hingga perubahan iklim yang semakin parah — bukankah sudah saatnya kita memilih yang lebih bersih dan lebih baik?

Energi terbarukan bukan hanya soal efisiensi ekonomi — ini tentang hidup yang layak, lingkungan yang sehat, dan masa depan yang kita wariskan untuk anak cucu.

Penutup

Jika artikel ini membuat Anda “tergugah tersenyum tapi juga berpikir” — itu wajar. Karena realitasnya memang absurd: kita yang hidup di tanah penuh energi bersih — tapi tetap mendanai racun.

Saatnya kita berhenti tertawa sambil batuk, dan mulai menertawakan pilihan yang salah itu — sambil beralih ke yang lebih sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *