Reporter : M. Fajar Shodiq

Editor : Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Keterbatasan ruang belajar masih menjadi persoalan yang dihadapi SD Negeri 9 Merapi Barat, Kabupaten Lahat. Kondisi tersebut membuat siswa kelas 2 dan kelas 3 harus mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam satu ruangan yang sama.

Kedua rombongan belajar (rombel) tersebut hanya dipisahkan menggunakan sekat papan triplek setinggi sekitar 1,5 meter. Sekat itu pun tidak menutup ruangan secara penuh sehingga suara maupun aktivitas dari masing-masing kelas masih terdengar dan terlihat oleh siswa kelas lainnya.

Kondisi tersebut dinilai mengganggu konsentrasi siswa selama proses pembelajaran.

Guru kelas 3 SDN 9 Merapi Barat, Santi, mengatakan kondisi itu cukup mengganggu kegiatan belajar mengajar.

“Misalnya kelas 2 belajar menyanyi, maka kelas kami tidak fokus pada pelajaran dan memperhatikan kelas 2. Begitu juga sebaliknya, kelas 2 kadang fokus ke kelas 3 dan kelas 3 fokus ke kelas 2,” ujarnya.

Kepala SDN 9 Merapi Barat membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, sekolah masih membutuhkan sedikitnya dua ruang belajar tambahan agar seluruh rombel dapat mengikuti pembelajaran di ruang kelas masing-masing.

“Kami masih memerlukan dua ruangan belajar lagi, sehingga nanti tidak ada rombel yang digabung menjadi satu ruangan,” katanya.

Persoalan di sekolah tersebut tidak hanya terkait keterbatasan ruang belajar. Kondisi plafon di sejumlah bagian sekolah juga sudah mengalami kerusakan dan membutuhkan perhatian.

Sekolah juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas air bersih. Meski telah memiliki WC, sekolah belum memiliki tandon atau penampungan air serta pompa air.

“WC ada, tapi penampungan air dan pompa air tidak ada. Saat musim kemarau, kami kesulitan air bersih,” imbuhnya.

Selain fasilitas dasar tersebut, pihak sekolah juga berharap adanya dukungan jaringan internet. Pasalnya, lokasi sekolah berada di wilayah yang sama sekali tidak terjangkau jaringan telekomunikasi seluler. Kondisi ini menjadi kendala tersendiri, terutama untuk kebutuhan akses informasi dan pembelajaran berbasis internet.

SDN 9 Merapi Barat berada di Desa Karangrejo, Kecamatan Merapi Barat. Desa tersebut merupakan kawasan eks transmigrasi PIR Sus Senabing dengan jumlah penduduk sekitar 130 kepala keluarga.

Dengan jumlah penduduk yang relatif terbatas, jumlah siswa di SDN 9 Merapi Barat juga tidak banyak. Saat ini, jumlah keseluruhan siswa kelas 1 hingga kelas 6 hanya sekitar 35 orang.

Secara geografis, Desa Karangrejo juga cukup jauh dari pusat pemerintahan. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari pusat Kabupaten Lahat, sementara menuju Kantor Camat Merapi Barat berjarak sekitar 40 kilometer.

Keterbatasan fasilitas tersebut turut dirasakan langsung oleh para siswa.

Salah seorang siswi, Nuzul Silmi Afiqa, yang bercita-cita menjadi dokter, berharap sekolahnya mendapat perhatian dan perbaikan fasilitas.

Ia berharap sekolah dapat direhabilitasi, terutama bagian plafon yang sudah mengalami kerusakan. Selain itu, ia juga menginginkan adanya fasilitas penunjang pembelajaran seperti komputer.

Kondisi SDN 9 Merapi Barat tersebut menjadi gambaran bahwa keterbatasan sarana pendidikan masih menjadi persoalan di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. Pihak sekolah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan ruang belajar, perbaikan bangunan, fasilitas air bersih, hingga akses teknologi informasi demi menunjang proses pendidikan para siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *