Penulis : M. Fajar Shodiq
Editor : Redaktur tvkitenews
Lahat, tvkitenews.com – Ramadhan tahun ini hadir di tengah lanskap ekonomi global yang tidak sedang baik-baik saja. Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, volatilitas harga komoditas, serta arah kebijakan moneter global yang masih ketat membentuk latar yang kompleks bagi perekonomian nasional.
Dalam situasi seperti ini, Ramadhan tidak lagi sekadar momentum spiritual dan sosial, tetapi juga ujian nyata bagi ketahanan ekonomi domestik.
Selama ini, diskursus ekonomi Ramadhan kerap terfokus pada isu-isu domestik: inflasi pangan, operasi pasar, dan daya beli masyarakat. Fokus ini penting, tetapi belum cukup. Ekonomi Indonesia tidak bergerak dalam ruang hampa. Setiap lonjakan harga beras, minyak goreng, atau daging di pasar lokal memiliki benang merah dengan dinamika global yang lebih luas. Ramadhan, dengan lonjakan permintaannya, memperbesar sensitivitas tersebut.
Ketika ekonomi global bergejolak, dampaknya terhadap Indonesia sering kali datang secara tidak langsung, tetapi terasa. Fluktuasi nilai tukar, perubahan harga energi, dan tekanan pada rantai pasok internasional menjadi faktor yang membentuk harga di tingkat konsumen. Dalam konteks ini, Ramadhan menjadi semacam kaca pembesar yang memperjelas rapuhnya ketahanan ekonomi jika terlalu bergantung pada faktor eksternal.
Bayang-Bayang Global dalam Harga Pangan Lokal
Harga pangan domestik tidak sepenuhnya ditentukan oleh produksi dalam negeri. Ketergantungan pada impor untuk komoditas tertentu membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global. Ketika harga pangan dunia naik atau distribusi terganggu akibat konflik dan proteksionisme, dampaknya segera terasa di pasar lokal.
Menjelang Ramadhan, lonjakan permintaan domestik bertemu dengan tekanan eksternal tersebut. Situasi ini menciptakan kombinasi yang sulit dikendalikan. Negara dipaksa bekerja lebih keras untuk menjaga stabilitas harga, sementara ruang kebijakan semakin sempit. Dalam kondisi global yang tidak menentu, kebijakan stabilisasi harga sering kali harus berhadapan dengan realitas pasar internasional yang berada di luar kendali.
Lebih dari itu, volatilitas nilai tukar memperparah tekanan. Pelemahan mata uang domestik meningkatkan biaya impor, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. Ramadhan, yang seharusnya menjadi periode ketenangan sosial, justru berubah menjadi fase di mana tekanan global terakumulasi dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Kebijakan Moneter Global dan Daya Beli Nasional
Arah kebijakan moneter global yang cenderung ketat dalam beberapa tahun terakhir juga meninggalkan jejak pada ekonomi domestik. Suku bunga tinggi di negara-negara maju mendorong aliran modal yang fluktuatif dan menekan stabilitas keuangan negara berkembang. Indonesia tidak terkecuali.
Dalam situasi ini, ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik menjadi terbatas. Upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi sering kali harus diimbangi dengan kebijakan suku bunga yang berhati-hati. Dampaknya, biaya kredit tetap tinggi, sementara dunia usaha—terutama UMKM—kesulitan memperluas usaha menjelang Ramadhan.
Keterbatasan akses pembiayaan ini berdampak langsung pada pasokan barang dan jasa. Ketika pelaku usaha tidak mampu meningkatkan produksi atau stok, lonjakan permintaan Ramadhan berujung pada kenaikan harga. Dengan demikian, tekanan global dan kebijakan moneter berkelindan dalam membentuk realitas pasar domestik.
Ketahanan Ekonomi di Tengah Dunia yang Rapuh
Ramadhan di tengah ketidakpastian global menegaskan pentingnya ketahanan ekonomi nasional. Ketahanan ini tidak hanya diukur dari pertumbuhan angka makro, tetapi dari kemampuan negara melindungi masyarakat dari guncangan eksternal. Ketika harga pangan melonjak akibat faktor global, pertanyaan tentang kedaulatan pangan dan kemandirian ekonomi kembali mengemuka.
Selama ketergantungan pada impor masih tinggi dan struktur produksi domestik belum kuat, ekonomi nasional akan terus rentan.
Ramadhan menjadi momen ketika kerentanan ini paling terasa, karena kebutuhan masyarakat meningkat sementara ruang adaptasi terbatas.
Ketahanan ekonomi juga berkaitan dengan kemampuan kebijakan fiskal merespons tekanan global. Subsidi, bantuan sosial, dan intervensi pasar menjadi instrumen penting, tetapi efektivitasnya bergantung pada ketepatan sasaran dan keberlanjutan anggaran. Tanpa strategi jangka panjang, kebijakan ini berisiko menjadi penyangga sementara yang mahal.
Konklusi: Ramadhan sebagai Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional
Ramadhan di tengah ketidakpastian global adalah pengingat bahwa stabilitas ekonomi domestik tidak bisa dilepaskan dari dinamika dunia. Lonjakan harga dan tekanan daya beli bukan semata-mata persoalan musiman, tetapi hasil dari interaksi kompleks antara faktor global dan kebijakan nasional.
Momentum Ramadhan seharusnya mendorong refleksi yang lebih luas tentang arah pembangunan ekonomi. Bukan hanya bagaimana menahan harga selama satu bulan, tetapi bagaimana membangun sistem ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, ketahanan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Jika Ramadhan hanya disikapi sebagai tantangan musiman, maka setiap gejolak global akan kembali menghantam dengan pola yang sama. Namun, jika ia dijadikan momentum evaluasi dan perbaikan struktural, Ramadhan dapat menjadi titik awal bagi ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga tangguh dan berkeadilan.
M. Fajar Shodiq : Reporter tvkitenews.com, anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat






