Penulis : M. Fajar Shodiq

Editor : Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Pada bulan Ramadhan, ruang publik kembali dipenuhi oleh kabar operasi pasar. Beras digelontorkan, minyak goreng dijual di bawah harga pasar, gula dan daging disalurkan melalui berbagai skema. 

Spanduk-spanduk bertuliskan stabilisasi harga terpampang di pasar rakyat, halaman kantor pemerintahan, hingga balai desa. Bagi negara, operasi pasar adalah tanda kehadiran. Bagi masyarakat, ia sering kali menjadi harapan sesaat di tengah harga yang merangkak naik.

Namun, di balik hiruk-pikuk operasi pasar tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang setiap tahun: sejauh mana kebijakan ini benar-benar menyentuh akar persoalan? Apakah operasi pasar adalah solusi nyata, atau sekadar simbol kepedulian yang bekerja di permukaan?

Secara konsep, operasi pasar dirancang untuk menambah pasokan agar harga turun atau setidaknya tertahan. Dalam teori ekonomi, langkah ini masuk akal. Ketika permintaan melonjak di bulan Ramadhan, intervensi negara diperlukan untuk mencegah harga bergerak liar. Masalahnya, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada skala, waktu, dan ketepatan sasaran.

Dalam praktiknya, operasi pasar kerap datang terlambat dan berskala terbatas.

Volume komoditas yang disalurkan sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan riil pasar. Dampaknya terasa hanya di titik-titik tertentu, sementara mayoritas konsumen tetap berhadapan dengan harga tinggi. Operasi pasar pun lebih menyerupai oase kecil di tengah gurun inflasi, menenangkan sesaat tetapi tidak mengubah lanskap secara keseluruhan.

Keterbatasan ini diperparah oleh persoalan distribusi. Tidak semua wilayah memiliki akses yang sama terhadap operasi pasar. Daerah perkotaan dan pusat keramaian cenderung lebih mudah dijangkau, sementara wilayah pinggiran dan desa kerap terlewat. Akibatnya, manfaat kebijakan ini tidak merata, dan ketimpangan harga antarwilayah justru semakin terasa.

Lebih jauh, operasi pasar sering kali gagal menembus mata rantai distribusi yang panjang dan kompleks. Ketika negara menjual komoditas dengan harga murah di satu titik, harga di titik lain tetap bergerak naik karena mekanisme pasar dibiarkan berjalan tanpa koreksi struktural. 

Pedagang kecil berada dalam posisi serba salah: menurunkan harga berarti mengorbankan margin, sementara mempertahankan harga berisiko dicap tidak berempati.

Fenomena ini menunjukkan bahwa operasi pasar bekerja lebih sebagai penyangga psikologis daripada instrumen ekonomi yang transformatif. Kehadiran negara memang terasa, tetapi daya ubahnya terbatas. Publik melihat negara bergerak, tetapi tidak selalu merasakan dampaknya secara berkelanjutan.

Operasi Pasar dan Logika Pemadam Kebakaran

Cara negara merespons kenaikan harga menjelang Ramadhan kerap menyerupai logika pemadam kebakaran. Ketika api mulai membesar, air disiram untuk mencegah kobaran meluas. Pendekatan ini penting dalam situasi darurat, tetapi menjadi bermasalah jika dijadikan satu-satunya strategi. Operasi pasar akhirnya terjebak dalam rutinitas tahunan tanpa evaluasi mendalam.

Alih-alih mencegah api sejak awal, kebijakan stabilisasi harga lebih banyak berfokus pada pengendalian dampak. Negara hadir ketika harga sudah naik, bukan ketika potensi kenaikan mulai terdeteksi. Padahal, lonjakan permintaan Ramadhan adalah fenomena yang sepenuhnya dapat diprediksi. Keterlambatan ini membuat operasi pasar bekerja dalam posisi defensif, bukan strategis.

Logika pemadam kebakaran juga menjelaskan mengapa operasi pasar jarang menyentuh hulu persoalan. Produksi, distribusi, dan tata niaga dibiarkan berjalan dengan problem lama, sementara negara sibuk mengoreksi harga di hilir. Selama struktur ini tidak berubah, operasi pasar hanya akan menjadi solusi sementara yang harus diulang setiap tahun.

Antara Kepedulian Negara dan Ketergantungan Kebijakan

Tidak dapat disangkal bahwa operasi pasar memiliki nilai sosial dan politis. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kebijakan ini sering kali menjadi satu-satunya akses terhadap pangan murah di tengah lonjakan harga. Dalam konteks ini, operasi pasar adalah bentuk tanggung jawab negara untuk melindungi kelompok rentan.

Namun, di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada operasi pasar justru berisiko melemahkan dorongan untuk melakukan reformasi struktural. Ketika operasi pasar dianggap cukup untuk meredam gejolak, tekanan untuk membenahi sistem produksi dan distribusi menjadi berkurang. Kebijakan jangka pendek pun menggantikan visi jangka panjang.

Ada pula risiko normalisasi krisis. Ketika operasi pasar selalu hadir setiap Ramadhan, kenaikan harga seolah menjadi sesuatu yang lumrah dan dapat diterima. Publik terbiasa dengan pola ini, sementara negara merasa telah menjalankan kewajibannya. Padahal, stabilitas harga seharusnya bukan prestasi musiman, melainkan kondisi yang dijaga sepanjang tahun.

Konklusi: Dari Simbol Menuju Solusi yang Lebih Berani

Operasi pasar menjelang Ramadhan adalah potret dilema kebijakan ekonomi Indonesia. Di satu sisi, ia menunjukkan kepedulian dan kehadiran negara. Di sisi lain, keterbatasannya menegaskan bahwa stabilisasi harga belum ditopang oleh perubahan struktural yang memadai.

Selama operasi pasar diperlakukan sebagai jawaban utama atas inflasi Ramadhan, masalah yang sama akan terus berulang. Negara akan terus sibuk menambal gejolak, sementara akar persoalan tetap tumbuh di bawah permukaan.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk melampaui kebijakan simbolik. Bukan sekadar menurunkan harga sesaat, tetapi membangun sistem pangan yang tahan terhadap lonjakan permintaan. Tanpa keberanian untuk keluar dari logika pemadam kebakaran, operasi pasar akan tetap hadir setiap tahun—ramai, terlihat, tetapi terbatas dalam daya ubahnya.

M. Fajar Shodiq: Reporter tvkitenews.com, anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *