(Ulasan Sarkasme Komikal dengan Data Nyata agar Bumi Tak Disangka Sekedar Lahan Cashback)

Penulis: M. Fajar Shodiq

Editor: Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com

Apa Kabar Banjir & Longsor yang “Baru Saja” Melanda Negeri Ini?

Bayangkan ini: kamu bangun pagi dan bertanya, “Kenapa rumahku seperti kolam renang?”

Tak perlu Google Translate, itu bukan efek update UI — itu banjir. Lagi.

Dan tanah longsor? Itu bukan sekedar slide gambar di slideshow pernikahan, melainkan seolah‐olah bumi terobsesi membuat teras rumah jadi stilts otomatis.

Kalau hujan disebut “ekstrem” seperti orang yang terlalu dramatis, kita perlu jawab lagi: apakah hujan ini yang ekstrem… atau kita yang ekstrem menghilangkan hutan?

DEFORESTASI — ISI KANTONG ATAU BENCANA EKOLOGI?

1. Data Definisi Fakta: Berapa Pohon “Pergi” dari Indonesia?

Kabar baik dulu: Indonesia katanya rajin menanam.

Kabar buruknya: ternyata menanam tidak secepat menebang.

>>Luas deforestasi Indonesia 2024 mencapai sekitar 261.575 hektar (±2.6 juta km²) — itu setara tiga kali luas Kota Singapura yang hilang cukup dramatis dalam waktu setahun saja. 

Artinya?

261.575 hektar hutan lenyap.

Jika satu hektar hutan mampu menampung ratusan ton karbon dan air, kita telah mencetak sejarah kehilangan penyaring hujan terbesar. konyolnya dalam umur manusia. 

Dan kalau kamu merasa itu angka kecil — coba hitung jumlah Uang Jajan Mingguanmu selama setahun.

Sekarang bayangkan angka sebesar dua ratus enam puluh satu ribu hektar hanyut begitu saja.

Bukankah lebih sedih daripada hitungan saldo dompet pada tanggal tua?

2. Kenapa Semua Ini Terjadi? Nih Ilmu Alami Kita vs Logika Bisnis

Ah, deforestasi!

Mendengar kata itu seperti “promo belanja akhir tahun”: sangat menggugah, penuh janji, tapi efeknya bikin kita bangun dengan regret.

Di balik pohon yang tumbang ada komoditas yang tersenyum: sawit, pulp & kertas, tambang mineral dan batu bara, dan semuanya punya nama yang terdengar sangat penting di RUPS investor. 

Jika dilihat sekilas:

Hutan hancur → Ekonomi tumbuh.

Jika dilihat dengan kacamata hidung yang masih bisa bernapas:

Hutan hancur → banjir & longsor makin sering → ekonomi turun akibat bencana.

Ini seperti membeli sepatu mahal dengan kartu kredit, lalu kaget kenapa tagihan membengkak — karena kita lupa bahwa bumi juga butuh angsuran tetap.

3. Hutan Hilang, Banjir & Longsor Lebih Sering: Ada Hubungan atau Cuma Main TikTok?

Logika sederhana:

Pohon itu seperti spons super yang menyerap air. Jika sponsnya hilang, air akan turun ke tanah tanpa filter, langsung jadi banjir.

>>Catatan terbaru di Indonesia menunjukkan

luasan deforestasi pada 2025 sekitar 166.450 hektar — meski sedikit turun, tetap besar dan punya potensi memperparah bencana seperti banjir dan longsor. 

Ah, tanah longsor!

Kalau dulu cuma istilah dalam sinetron, sekarang kita rasakan sendiri:

tanah begitu cepat slide seperti video reels yang bufferingnya jelek.

4. Nilai Kerugian Ekologi & Ekonomi — Jangan Bilang Kamu Takut Angka!

Kalau kita bicara uang, barulah banyak yang melek.

Bencana itu bukan sekadar cerita sedih di timeline. Ada angka yang bikin dompet kaget:

>>Kerugian ekonomi akibat banjir di Sumatera diperkirakan mencapai Rp6,28 triliun hanya dari satu gelombang bencana saja. 

Itu baru satu jenis bencana — belum menghitung:

produktivitas yang turun, infrastruktur yang rusak, kesehatan masyarakat yang terganggu, dan hasil panen yang lenyap seperti sinyal 4G di pedalaman.

Kalau dulu kita bangga menjadi negara agraris, sekarang kita harus bangga menjadi negara yang ahli mengubah kerugian jadi statistik viral.

5. Ekosistem Lain Ikut Merana — Bukan Cuma Hujan & Tanah

Andai hutan bisa ngomong. Mungkin mereka akan bilang, “Hei, ini bukan rumah liburan yang bisa dibongkar pas ada promo!”

Hutan bukan cuma tumpukan pepohonan yang manis dipotret.

Ia adalah rumah bagi ribuan spesies yang makin terancam punah karena habitatnya tercabut tanpa belas kasihan. 

Setengah dari deforestasi itu bahkan terjadi di habitat kritis satwa seperti orangutan, harimau, gajah, dan badak. 

Kalau kamu masih bisa lihat postingan lucu orangutan di Instagram, itu karena sisanya yang belum terhapus sisanya masih berusaha selfie.

6. Pembelaan yang Klasik: “Ini Demi Pembangunan!”

Tak lengkap kalau tidak ada argumen klasik:

“Deforestasi itu demi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.”

Ah iya, pembangunan itu penting.

Tapi apakah menggusur hutan itu sama dengan membangun masa depan atau hanya mencuri masa depan?

Jika pembangunan berarti menukar hutan kita dengan kilang minyak sawit, pabrik kertas, dan tambang — lalu berharap tanah tak protes, itu seperti berharap perut tetap rata setelah makan 10 burger sekaligus… tanpa olahraga.

PENUTUP

Konklusi & Harapan: Menyelamatkan Bumi Bukan Promo Instan

Begini kesimpulan dari drama panjang tanpa iklan ini:

>> Deforestasi itu bukan cuma angka di laporan tahunan.

261.575 hektar yang hilang bukan sekadar angka di spreadsheet — itu berarti lebih sedikit spons alami menyerap air, menyaring udara, dan menahan tanah agar tidak longsor. 

>> Kerugian akibat dampak bencana bukan mitos — tapi nyata.

Triliunan rupiah hilang di setiap gelombang bencana yang semakin sering terjadi. 

>> Hutan yang hilang berarti risiko ekologis yang melejit.

Ini bukan sekadar soal pepohonan yang jatuh — tapi juga hilangnya biodiversitas, penguapan air yang terganggu, dan rantai makanan yang terbalik.

Jadi, apakah deforestasi itu mengerikan?

Jika kamu merasa rugi waktu nonton serial yang ternyata season finalnya mengecewakan, maka deforestasi itu lebih mengerikan: karena dampaknya bukan selesai setelah 45 menit — tetapi bertahan sepanjang hidup.

Harapan: Bumi, Kita Gak Mau Kamu Kaya Dompet yang Cepat Kosong

Harapan itu sederhana:

✨ Kebijakan tegas yang benar-benar menjaga hutan — bukan sekadar janji.

✨ Restorasi hutan yang lebih cepat daripada ekspansi komersial.

✨ Semua pihak sadar bahwa hutan bukan “aset untuk dirusak,” tapi “modal hidup untuk diwariskan.”

Kalau tidak. 

kita cuma akan terus mengeluh di komentar media sosial, sementara banjir dan longsor terus menjadi serial dramatis setiap musim hujan.

Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi, sosial dan lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *