Penulis : M. Fajar Shodiq

Editor : Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Setiap Ramadan tiba, ada pemandangan yang hampir pasti terulang di berbagai sudut kota dan desa. Menjelang pukul lima sore, trotoar berubah fungsi. Halaman rumah disulap menjadi etalase sederhana. Meja lipat berjajar.

Spanduk seadanya digantung. Aroma kolak, gorengan, dan es buah bercampur dengan udara senja yang hangat. Ramadan bukan hanya bulan ibadah. Ia juga bulan pergerakan ekonomi rakyat kecil.

Fenomena menjamurnya pedagang ta’jil adalah potret sosial-ekonomi yang menarik. Aktivitas ini bersifat sporadis—muncul setahun sekali, ramai selama 30 hari, lalu perlahan menghilang selepas takbir berkumandang. Banyak pelakunya bukan pedagang tetap. Mereka adalah ibu rumah tangga, karyawan, buruh harian, bahkan mahasiswa. Ramadan menjadi momentum untuk menambah income rumah tangga. Sebuah ekonomi dadakan. Namun tidak bisa dianggap remeh.

Secara ekonomi, Ramadan menciptakan anomali yang justru dapat diprediksi. Permintaan terhadap makanan dan minuman tertentu meningkat tajam dalam rentang waktu yang sangat spesifik: menjelang berbuka puasa.

Konsumsi terkonsentrasi dalam satu momentum harian. Orang cenderung membeli lebih banyak, bukan semata karena lapar, tetapi karena suasana. Ada budaya berbuka bersama. Ada dorongan berbagi. Ada semangat memuliakan tamu dan keluarga. Bahkan ada psikologi “sekali setahun”.

Lonjakan demand ini otomatis membuka ruang bagi supply baru. Dan supply itu datang dari sektor informal: pedagang ta’jil. Modalnya relatif kecil. Risiko bisa dihitung. Pasarnya jelas. Perputaran uang cepat. Dalam waktu satu hingga dua jam, dagangan bisa habis. Bagi banyak keluarga, ini peluang emas. Ramadan menjadi akselerator ekonomi mikro.

Namun di balik romantika lapak senja, ada realitas yang lebih dalam. Fenomena ekonomi ta’jil menunjukkan daya adaptasi masyarakat. Tetapi pada saat yang sama, ia juga mengisyaratkan tekanan ekonomi rumah tangga yang tidak ringan.

Harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Lebaran cenderung naik. Beras, gula, minyak, daging, telur—semuanya bergerak naik seiring meningkatnya permintaan. Sementara kebutuhan rumah tangga justru bertambah: zakat, sedekah, pakaian anak, THR, biaya mudik.

Banyak keluarga menjadikan Ramadan sebagai momentum “menambal defisit” anggaran tahunan. Tambahan penghasilan dari ta’jil digunakan untuk membayar cicilan, menutup tunggakan, atau sekadar memastikan Lebaran tetap layak dirayakan.

Di sinilah ekonomi ta’jil menjadi penting. Ia adalah mekanisme bertahan hidup yang kreatif. Rapuh karena musiman. Namun lentur karena adaptif. Rakyat kecil tidak menunggu bantuan. Mereka membaca momentum.

Pertanyaannya: apakah ekonomi yang hanya hidup 30 hari ini sehat dalam jangka panjang? Sebagian melihatnya sebagai bukti semangat kewirausahaan rakyat. Dari usaha kecil seperti inilah pengalaman bisnis tumbuh. Orang belajar menghitung modal, menentukan harga, mengelola stok, hingga menghadapi risiko barang tidak laku. Ramadan menjadi laboratorium kewirausahaan rakyat.

Namun sebagian lain melihatnya sebagai gejala ekonomi yang belum stabil. Ketika terlalu banyak orang bergantung pada momentum musiman, itu menunjukkan pendapatan reguler belum cukup kuat menopang kebutuhan tahunan. Kedua perspektif ini sah.

Yang menjadi persoalan bukan pada sifat musiman itu sendiri, melainkan pada kelanjutannya. Setelah Ramadan usai, sebagian besar pengalaman usaha berhenti begitu saja. Tidak berkembang menjadi bisnis berkelanjutan. Padahal di situ tersimpan potensi besar.

Bayangkan jika fenomena ta’jil diperlakukan sebagai inkubator UMKM musiman. Pemerintah Daerah dapat melakukan pendataan pedagang. Memberikan pelatihan singkat tentang higienitas makanan, pencatatan keuangan sederhana, manajemen stok, hingga pengemasan produk. Lembaga keuangan mikro dapat masuk dengan pembiayaan ultra kecil yang terstruktur. Platform digital bisa membantu promosi dan sistem pre-order. Dengan pendekatan seperti itu, Ramadan tidak hanya menjadi momentum jualan, tetapi pintu masuk formalitas usaha.

Banyak produk ta’jil sebenarnya memiliki potensi pasar sepanjang tahun: kue tradisional, minuman herbal, makanan ringan khas daerah. Yang kurang sering kali hanya akses pasar dan keberanian menjaga kontinuitas. Ramadan memberi kepercayaan diri awal. Sistem seharusnya hadir untuk menjaga api itu tetap menyala.

Pasar ta’jil bukan hanya ruang transaksi. Ia juga ruang interaksi. Tetangga saling bertemu. Anak-anak membantu orang tua. Komunitas kecil terbentuk secara organik. Bahkan sering muncul solidaritas sosial—saling membeli agar dagangan cepat habis.

Ekonomi ta’jil memperkuat kohesi sosial. 

Di tengah kecenderungan ekonomi modern yang semakin digital dan individualistik, Ramadan menghadirkan kembali wajah ekonomi yang manusiawi: tatap muka, senyum, doa “semoga laris”, dan percakapan ringan menjelang azan magrib. Dalam konteks ini, ta’jil bukan sekadar komoditas. Ia adalah medium silaturahmi.

Namun, dinamika ini tidak bebas dari persoalan. Trotoar berubah fungsi.

Kemacetan meningkat. Pengelolaan sampah kadang tidak optimal. Standar kebersihan dan keamanan pangan belum tentu terjaga. Persaingan harga bisa memicu penurunan kualitas bahan. Inilah risiko ekonomi informal yang bergerak cepat tanpa regulasi memadai.

Solusinya bukan pelarangan. Melainkan penataan. Pemerintah Daerah dapat menyediakan zona khusus, mengatur jam operasional, memastikan standar kebersihan, serta memberikan edukasi sederhana tentang keamanan pangan. Pendekatan harus persuasif dan solutif, bukan represif. Karena di balik satu lapak kecil, ada harapan besar sebuah keluarga.

Ada satu aspek krusial yang sering luput: literasi keuangan. Berapa banyak pedagang ta’jil yang benar-benar menghitung laba bersih? Berapa yang memisahkan modal dan keuntungan? Berapa yang menyisihkan sebagian untuk tabungan usaha tahun depan?

Jika keuntungan Ramadan habis untuk konsumsi Lebaran tanpa ada akumulasi modal, maka siklus sporadis akan terus berulang tanpa peningkatan kesejahteraan signifikan. Ramadan seharusnya menjadi momentum bukan hanya pengendalian konsumsi, tetapi juga pengelolaan rezeki.

Tambahan penghasilan, sekecil apa pun, idealnya dibagi: sebagian untuk kebutuhan, sebagian untuk tabungan, sebagian untuk modal usaha lanjutan. Di sinilah transformasi ekonomi musiman menjadi ekonomi produktif bisa dimulai.

Menariknya, banyak pelaku utama ekonomi ta’jil adalah perempuan—khususnya ibu rumah tangga. Mereka memproduksi, mengemas, mengatur harga, bahkan mengelola pelanggan. Anggota keluarga lain membantu distribusi. Ramadan menjadi ruang afirmasi ekonomi bagi perempuan di tingkat rumah tangga.

Pengalaman ini berdampak pada rasa percaya diri dan posisi tawar dalam pengambilan keputusan finansial keluarga. Meski kecil, penghasilan mandiri memberi makna psikologis yang besar. Ta’jil, dalam banyak kasus, bukan sekadar tambahan income. Ia adalah pengalaman pemberdayaan.

Ramadan menghadirkan kombinasi unik antara spiritualitas dan rasionalitas ekonomi. Di satu sisi, orang berpuasa untuk menahan diri. Di sisi lain, konsumsi meningkat. Ada paradoks yang menarik. Namun justru di situ letak dinamika sosialnya.

Masyarakat memanfaatkan suasana religius untuk menciptakan peluang ekonomi. Tidak ada yang keliru dalam hal ini, selama tetap menjaga etika dan kualitas. Justru ekonomi yang hidup di bulan suci ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak bertentangan dengan produktivitas. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Secara struktural, fenomena ta’jil menunjukkan tiga hal utama. Pertama, fleksibilitas ekonomi rakyat kecil sangat tinggi. Mereka mampu masuk dan keluar pasar dengan cepat sesuai momentum. Kedua, struktur pendapatan rumah tangga masih rentan. Momentum musiman menjadi solusi jangka pendek untuk kebutuhan tahunan. Ketiga, potensi kewirausahaan besar namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem ekonomi formal.

Jika ketiga hal ini dibaca dengan tepat, maka Ramadan bisa menjadi pintu masuk kebijakan pemberdayaan UMKM berbasis komunitas. Ekonomi sporadis tidak harus dipandang sebagai kelemahan. Ia bisa menjadi titik awal transformasi.

Ramadan akan selalu datang dan pergi. Meja lipat akan kembali disimpan. Spanduk diturunkan. Jalanan kembali normal. Tetapi fenomena ta’jil seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa refleksi.

Ia adalah pelajaran tentang daya lenting masyarakat. Tentang kreativitas membaca peluang. Tentang keberanian memulai, meski kecil dan musiman.

Tantangan kita bukan menghentikan ekonomi sporadis ini, melainkan mengubahnya menjadi fondasi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Dengan literasi keuangan, penataan yang bijak, dan dukungan sistematis, Ramadan bisa menjadi inkubator kewirausahaan rakyat.

Karena pada akhirnya, ta’jil bukan hanya tentang membatalkan puasa. Ia adalah simbol bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk berusaha. Dan bahwa setiap momentum, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi batu pijakan menuju kemandirian ekonomi yang lebih kokoh.

M. Fajar Shodiq: Reporter tvkitenews.com, anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *