(Mengurai Dinamika Perekonomian Nasional dan Harapan Pelaku Usaha)
Ekonomi Indonesia di Ambang Ketidakpastian
Penulis: M. Fajar Shodiq
Editor: Redaktur tvkitenews
Lahat, tvkitenews.com – Memasuki awal 2026, Indonesia berada dalam fase ekonomi yang menunjukkan dinamika positif namun tidak sepenuhnya stabil. Pada bulan Januari 2026 ini, inflasi nasional tercatat mengalami kenaikan — mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir sebesar 3,55%, sedikit di atas target Bank Indonesia (BI) yang berada di kisaran 1,5–3,5% per tahun. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh efek basis rendah dari tahun sebelumnya, meski tingkat inflasi inti tetap terkendali di angka sekitar 2,45%.
Secara makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan tanda-tanda resiliensi, dengan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 berada di rentang 4,9–5,7% menurut Bank Indonesia. Angka ini sedikit lebih tinggi dari pencapaian tahun sebelumnya dan memberikan indikasi bahwa meskipun ada ketidakpastian global, ekonomi domestik mampu mempertahankan momentum pertumbuhan.
Namun laporan ekonomi sekaligus suara pelaku usaha menunjukkan kontradiksi: di satu sisi pertumbuhan terjaga, di sisi lain tekanan seperti akses kredit yang tidak merata, tekanan biaya, serta volatilitas permintaan domestik turut menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor — terutama pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
UMKM: Tulang Punggung Tapi Rentan di Tengah Gejolak Ekonomi
UMKM Indonesia bukan sekadar label bisnis kecil; mereka adalah poros struktural perekonomian nasional. Kontribusinya tidak bisa dianggap remeh. UMKM menyumbang lebih dari 99% dari total unit usaha di Indonesia. Kontribusi terhadap PDB mencapai lebih dari 60%, sekaligus menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.
Dengan demikian, UMKM secara jelas menjadi faktor penentu stabilitas ekonomi dari hulu hingga hilir. Ketika sektor-sektor besar menghadapi tekanan eksternal, UMKM sering kali menjadi penyangga yang menopang aktivitas ekonomi — terutama di sektor konsumsi domestik dan penciptaan lapangan kerja.
Namun peran besar ini dihadapkan pada realitas kompleks yang membatasi kapasitas UMKM untuk tumbuh optimal.
Tantangan yang Menghambat UMKM
Akses Pembiayaan yang Terbatas
Hampir 69,5% UMKM belum mampu mengakses kredit perbankan, salah satu kendala utama yang menghambat produktivitas, inovasi, dan ekspansi usaha.
Keterbatasan pembiayaan ini menciptakan kesenjangan besar antara kebutuhan modal dan ketersediaannya, terutama ketika UMKM ingin mengembangkan kapasitas produksi atau masuk ke pasar digital maupun ekspor.
Tekanan Biaya dan Ketidakpastian Permintaan.
Ketidakpastian ekonomi global dan domestik memengaruhi permintaan konsumen. UMKM harus menghadapi fluktuasi permintaan, yang terkadang menyebabkan penurunan penjualan atau bahkan pembekuan aktivitas usaha. Studi media lokal bahkan menggambarkan fenomena yang disebut sebagai “zona merah” UMKM — di mana hanya pelaku yang paling adaptif yang mampu bertahan.
Kesenjangan Digital dan Daya Saing
Transformasi digital terasa positif secara teori namun belum merata dalam implementasi. Banyak UMKM masih berjuang untuk memanfaatkan teknologi secara efektif, sehingga kalah bersaing dengan produk-produk impor atau usaha besar yang memiliki akses teknologi lebih baik.
UMKM dalam Pusaran Ekonomi yang Tidak Menentu
Tantangan ekonomi global — mulai dari kelangkaan investasi, dinamika suku bunga, sampai tekanan biaya impor — memiliki dampak beragam terhadap UMKM. Sementara beberapa pelaku dapat bertahan dengan strategi adaptasi kreatif, tidak sedikit yang menghadapi risiko stagnasi atau bahkan penutupan usaha.
Ekonom sering menggarisbawahi bahwa UMKM relatif rentan terhadap perubahan cepat dalam permintaan dan biaya input. Struktur modal yang terbatas membuat banyak UMKM kesulitan mengelola risiko harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan perubahan pola belanja konsumen. Ini memperlihatkan bagaimana sektor UMKM dapat menjadi indeks kesehatan ekonomi nasional: ketika mereka berjuang, itu mencerminkan tekanan yang lebih luas pada perekonomian.
Namun, penting dicatat pula bahwa ketahanan ekonomi Indonesia dalam periode 2025–2026 tercatat positif, dengan pertumbuhan yang tetap terjaga meski global masih tidak menentu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tekanan berujung pada kontraksi ekonomi, melainkan pergeseran pola dan dinamika baru yang perlu diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
Peran UMKM dalam Menopang Perekonomian Nasional
Pakar ekonomi menekankan bahwa UMKM bukan hanya pelaku pasar kecil, tetapi juga fondasi yang menopang struktur ekonomi makro. Perannya dalam memoderasi gejolak ekonomi terlihat dari beberapa fungsi utama berikut:
Sumber Stabilitas Sosial-ekonomi
Melalui penyediaan lapangan kerja yang besar dan pemerataan pendapatan di daerah, UMKM membantu mengurangi risiko ketimpangan sosial dan ketidakstabilan ekonomi.
Pendorong Permintaan Domestik
UMKM berkontribusi pada konsumsi domestik melalui produk-produk lokal yang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini membantu menjaga laju pertumbuhan ekonomi ketika investasi asing atau permintaan ekspor tidak stabil.
Peran dalam Perekonomian Digital
Dengan semakin berkembangnya ekosistem digital seperti UMKM Go Digital dan platform pembayaran QRIS, UMKM mampu meningkatkan penetrasi pasar mereka baik secara lokal maupun lintas negara.
Harapan Pelaku UMKM: Gairahkan Ekonomi 2026
Di tengah segala tantangan, pelaku UMKM memiliki aspirasi yang kuat agar perekonomian bergairah dan memberikan peluang yang lebih besar. Beberapa harapan utama antara lain:
1. Akses Pembiayaan yang Lebih Merata
UMKM berharap agar hambatan kredit bisa diatasi melalui inovasi pembiayaan seperti akses kredit digital, penjaminan yang lebih sederhana, atau dukungan pembiayaan berbasis komunitas dan koperasi. Ini penting agar modal usaha tidak menjadi faktor paling dominan yang membatasi pertumbuhan.
2. Dukungan Kebijakan yang Adaptif
Pelaku UMKM berharap pemerintah dan otoritas moneter terus menyusun kebijakan yang responsif, misalnya kebijakan fiskal yang mendukung investasi kecil, insentif pajak, atau subsidi biaya yang dapat meringankan beban produksi ketika permintaan menurun.
3. Pelatihan dan Pendampingan Berkelanjutan
UMKM ingin adanya program pelatihan yang lebih aplikatif dan pendampingan nyata dalam digitalisasi usaha. Pelatihan yang hanya berupa teori sering kali tidak cukup untuk membawa perubahan nyata bagi UMKM yang menghadapi realitas pasar yang cepat berubah.
4. Integrasi ke Rantai Nilai Regional dan Global
Meningkatnya konektivitas ekonomi global membuka peluang ekspor bagi UMKM. Dengan dukungan logistik dan pemasaran yang baik, UMKM tidak hanya bisa berkompetisi di pasar domestik, tetapi juga menembus pasar ASEAN dan dunia — sebuah gerbang yang membuka peluang pertumbuhan lebih besar.
Kesimpulan: UMKM sebagai Kunci Ketahanan Ekonomi
Ekonomi Indonesia pada 2026 berada di titik persimpangan: antara ketidakpastian global dan peluang domestik yang masih besar. Di tengah tantangan, UMKM tetap menjadi penyangga utama yang memberikan stabilitas sosial-ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Meskipun pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan dinamika positif, ketidakpastian seperti akses pembiayaan, persaingan global, dan tekanan biaya tetap menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh UMKM. Untuk itu, dukungan kebijakan yang berkelanjutan, akses modal yang adil, serta pelatihan yang aplikatif menjadi kunci agar UMKM dapat terus berkontribusi maksimal terhadap ekonomi nasional yang lebih bergairah.
Dengan sinergi antara pemerintah, sektor keuangan, dan pelaku usaha sendiri, UMKM bukan hanya dapat bertahan di tengah ekonomi yang tidak menentu, tetapi juga tumbuh sebagai tulang punggung pertumbuhan Indonesia ke depan.
Penulis reporter tvkitenews.com, pemerhati ekonomi, sosial dan budaya. Anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat.




