(TAMU TAK DIUNDANG YANG KITA UNDANG SENDIRI)

Penulis: M. FAJAR SHODIQ

Editor: Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com

PROLOG:

Tour Banjir Indonesia 2026 – Ketika Air Jadi Lebih Rajin Datang daripada Tamu Lebaran. 

Awal tahun ini Indonesia seperti sedang menjalankan tur bencana nasional. Setelah banjir bandang di Sumatra menyapu permukiman, menghanyutkan peralatan rumah tangga, bahkan memindahkan rumah warga tanpa izin, giliran Belitang di Sumatera Selatan yang dikirimi paket lengkap berupa banjir besar tanpa ongkir.

Dan seperti notifikasi grup WhatsApp keluarga yang tak ada habisnya, berita banjir dari berbagai daerah lain bermunculan:

Jambi kebanjiran, ratusan rumah tenggelam, warga sibuk menyelamatkan ayam, jemuran, hingga galon air.

Kalimantan Selatan kembali menjadi pelanggan setia banjir, seolah-olah daerah itu punya langganan premium untuk bencana hidrometeorologi.

Aceh mengalami banjir di banyak kecamatan, jalan raya berubah menjadi sungai dadakan lengkap dengan arus “membawa motormu secara gratis”.

Jawa Barat—mulai dari Garut, Bandung Selatan, hingga Sumedang—kebanjiran lagi padahal belum selesai mengeringkan trauma dari longsor sebelumnya.

Sulawesi Tengah dan NTT pun kebagian paket banjir-longsor, kombo hemat bencana yang tidak pernah ada diskonnya.

Jakarta, meski sudah berkali-kali mengklaim “semakin siap menghadapi musim hujan”, tetap tak bisa menghindari genangan.

Rasanya seperti kota yang sudah berdamai dengan kenyataan: banjir adalah tradisi budaya.

Dari ujung Sumatra sampai Papua, air tampaknya sedang rajin jalan-jalan.

Setiap minggu ada kota baru yang kena giliran panggung.

Parahnya, masyarakat makin terbiasa:

Air naik? Angkat barang.

Motor mogok? Dorong.

Rumah terendam? Update status:

“Semoga cepat surut 🙏.”

Kita bangsa yang luar biasa tangguh menghadapi banjir… mungkin terlalu tangguh sampai lupa bahwa semua ini tidak normal.

Banjir bukan sekadar hujan nakal. Ia kombinasi maut antara kekacauan hidrometerologi dan kerusakan ekologi—dua hal yang sudah lama kita pelihara dengan penuh kesabaran.

1. Hidrometerologi Indonesia: Drama Cuaca Tanpa Season Finale

Indonesia terletak di garis khatulistiwa—posisi eksotis yang membuat kita kaya hujan, kaya panas, sekaligus kaya bencana.

a. Cuaca Indonesia Kini Punya Mood Swing Sendiri

Perubahan iklim global membuat pola musim kacau balau.

Hari ini panas.

Besok hujan badai.

Lusa mungkin mendung tapi hujan lokal hanya di rumah tetangga.

Fenomena La Nina dan El Nino datang seperti tamu kos:

Datang tiba-tiba, makan banyak, dan bikin rumah berantakan.

Kita biasanya mengabaikan peringatan BMKG dengan penuh optimisme semu:

“Ah paling hujan sebentar.”

Tiga jam kemudian, rumah sudah berubah jadi aquarium.

b. Infrastruktur Air: Tua, Letih, dan Tidak Pernah Upgrade

Sungai dangkal. Drainase sempit. Gorong-gorong mengantuk penuh sampah.

Semua infrastruktur dibuat untuk curah hujan masa lalu—bukan hujan zaman sekarang yang hobi cosplay air terjun.

Hasilnya jelas: hujan sedikit saja, air bingung mau ke mana, dan akhirnya memilih masuk ke rumah warga.

c. Kota-Kota yang Dikhianati Beton Dulu tanah bebas menyerap air. Sekarang semuanya sudah ditutupi beton, paving, dan perumahan yang tagline-nya “dekat dengan alam”, padahal alamnya sudah disemen.

Air pun bingung:

“Mau meresap di mana? Ya udah lah, banjir aja.”

2. Kerusakan Ekologi Indonesia: Paket Kombo Penyebab Bencana Kalau cuaca ekstrem adalah pemicu, kerusakan ekologi adalah bensin yang disiramkan ke api bencana.

a. Deforestasi: Indonesia Rajin Menebang dari Sabang sampai Merauke Hutan ditebang demi perkebunan, industri, dan penambangan.

Pepohonan yang harusnya menahan air kini hilang.

Tanah kehilangan penopang.

Air kehilangan rem.

Banjir kehilangan hambatan.

Deforestasi seperti menghapus fungsi “save game” dalam kehidupan ekologi. Sekali rusak, susah kembali.

b. Lahan Gambut: Dulu Penyimpan Air, Kini Sumber Bencana, gambut dikeringkan untuk perkebunan dan industri.

Akibatnya:

Musim kering → kebakaran.

Musim hujan → banjir.

Keduanya sama-sama menyiksa.

c. Sungai: Dari Tempat Hidup ke Tempat Sampah, sedimentasi tinggi, sampah menumpuk, bantaran rusak.

Ketika hujan turun deras, sungai tidak lagi jadi sahabat, tapi berubah menjadi tembok air yang meluap tanpa kompromi.

d. Lubang Tambang: Kolam Renang Raksasa Pembawa Malapetaka

Setelah digali dalam-dalam, banyak bekas tambang tidak direstorasi. Saat musim hujan, lubang-lubang ini menjadi danau tak terencana, mengubah struktur tanah dan mengacaukan aliran air.

Air pun memilih jalan tercepat:

langsung turun ke pemukiman.

Langsung banjir.

Langsung heboh.

e. Tata Ruang: Di Atas Kertas Indah, di Lapangan Kacau, area resapan jadi ruko.

Kawasan hijau jadi perumahan.

Daerah rawan bencana jadi kawasan industri.

Jika alam bisa protes, mungkin ia bilang:

“Cita-cita kalian mau hidup atau mau saya reset?”

PENUTUP

Bencana hidrometerologi bukan kutukan. Ia bukan “ulangan harian dari Tuhan”.

Ia konsekuensi dari apa yang kita lakukan—dan tidak kita lakukan.

Sudah 1.400 tahun lalu Allah mengingatkan dalam QS Ar-Rum ayat 41:

“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ”

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia…”

Ayat ini seperti menatap kita sambil berkata:

“Tuh, makanya jangan nakal.”

Kita menebang hutan, mengeringkan gambut, menambang tanpa memulihkan, membeton semua permukaan, dan membiarkan sungai menderita.

Lalu kita ingin alam tetap baik?

Itu seperti menyakiti seseorang setiap hari tapi berharap dia tetap tersenyum.

Harapan terbesar bukan untuk kita—

tetapi untuk anak cucu kita, yang akan mewarisi bumi ini:

hutan yang masih hijau, sungai yang masih jernih, udara yang masih layak napas,

tanah yang masih kuat, dan dunia yang tidak setiap tahun mengadakan “festival banjir”.

Kita masih punya waktu. Tidak banyak. Tapi cukup—jika kita mulai sekarang.

Karena alam tidak menunggu.

Ia bergerak.

Ia membalas sesuai perlakuan.

Dan semoga sebelum alam merilis episode season finale yang tidak ingin kita tonton, kita sudah sempat memperbaiki semua kerusakan yang kita buat.

Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi, sosial dan lingkungan. Anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *