Ketika Hutan Menangis, Dompet Tertawa, dan Kita Semua Bingung Harus Ikut Siapa
Penulis: M. Fajar Shodiq
Editor: Redaktur tvkitenews
Prolog: Deforestasi — Drama Lama yang Terus Diputar Ulang
Lahat, tvkitenews.com
Indonesia, negeri yang diberkahi hutan tropis megah, pohon-pohon raksasa yang usianya mengalahkan garis keturunan dynasty politik lokal, dan keanekaragaman hayati yang membuat peneliti asing jatuh cinta tanpa syarat. Sayangnya, hutan-hutan ini juga hidup di negara tempat kata “izin” bisa berubah menjadi “boleh kok, asal…,” dan kata “pelestarian” kadang kedengarannya seperti nama sandal jepit.
Deforestasi menjadi pembuka kisah klasik yang terus terulang: hutan digunduli, lahan dibuka, lalu alat berat datang seperti adegan film blockbuster — minus soundtrack heroik, plus suara berisik buldoser yang mengusir burung enggang dan orang utan dari tempat tinggalnya.
Sabu-sabu lingkungan? Tidak. Ini hanya proses standar pembukaan lahan tambang batubara terbuka — sebuah kegiatan yang oleh sebagian orang disebut “penggerak ekonomi,” tetapi oleh sebagian lainnya disebut “kalau ini terus terjadi, cucu-cucu kita mungkin cuma bisa lihat hutan dari wallpaper komputer.”
Tambang batubara terbuka (open pit mining) adalah metode yang efisien, cepat, dan brutal. Ia bekerja seperti memotong kue lapis, hanya saja yang dipotong bukan kue — tapi lapisan tanah, vegetasi, dan ekosistem yang sudah dibangun oleh alam selama ratusan ribu tahun.
Selamat datang di panggung megah industri batubara: tempat pepohonan ditebang, tanah dikupas, dan laba perusahaan meroket lebih cepat daripada tingkat stres aktivis lingkungan.
Bagian 1: Dampak Ekonomi — Ketika Uang Bicara, Polusi pun Menyimak
Mari bicara tentang sisi yang paling bersinar: duit.
1.1. Kontribusi pada PDB: Batubara, Sang Anak Emas Energi Murah
Batubara masih menyumbang bagian signifikan bagi PDB nasional. Ia adalah primadona energi murah, pemasok listrik, sumber lapangan pekerjaan, dan penyumbang devisa dari ekspor.
Ketika harga batubara naik, ekonomi daerah tambang ikut naik kelas: hotel penuh, warung bakso nongkrong 24 jam, dan motor-motor baru berseliweran yang entah kenapa semuanya knalpot racing.
Tidak bisa dipungkiri: batubara punya daya sihir menghidupkan ekonomi lokal. UMR naik, pendapatan daerah naik, dan masyarakat sekitar tambang bisa menikmati pendapatan yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun, di balik semua itu, ada juga catatan kecil yang sering luput: kalau sumber ekonomi utama adalah batubara, maka nasib daerah itu sama seperti sinetron Indonesia: hidupnya kuat tapi sangat tergantung pada satu tokoh utama. Begitu tokoh itu mati (atau dalam konteks ini: harga batubara jatuh atau cadangan habis), tamatlah cerita.
1.2. Lapangan Kerja — Selamat Datang di Ekonomi Bergantung Tambang
Tambang batubara menyediakan lapangan kerja, dari pekerja tambang hingga pedagang kaki lima. Tapi mari jujur: lapangan kerja ini bersifat sementara dan ekstremnya, sangat tergantung pada fluktuasi pasar global.
Begitu harga jatuh, PHK bergelombang. Dan masyarakat yang sejak awal dilatih “setia” pada ekonomi batubara, kini harus bertanya-tanya: “Lalu kita bisa kerja apa?”
Tentu, jawaban resmi biasanya “alih profesi.” Tapi alih profesi dari operator alat berat ke petani organik, itu seperti meminta kucing jadi ustaz — teorinya mungkin bisa, praktiknya… ya kita tahu jawabannya.
1.3. Pendapatan Negara — Sumbangan yang Indah dan Lubang Pajak yang Sunyi
Royalti dan pajak tambang memberi pemasukan besar. Tapi apakah itu sebanding dengan kerusakan ekologis yang tidak ternilai? Itu seperti menukar iPhone baru dengan laptop 20 tahun yang masih pakai Windows XP: bisa saja, tapi jelas bukan keputusan cerdas untuk masa depan.
Ditambah lagi, praktik transfer pricing, pengalihan keuntungan, dan segala trik akuntansi kreatif membuat sebagian pemasukan negara menguap seperti uap teh panas yang tak pernah kita lihat wujudnya kembali.
Bagian 2: Dampak Ekologi — Tagihan Lingkungan yang Tidak Pernah Kedaluwarsa
Jika ekonomi adalah sisi yang penuh gemerlap, maka ekologi adalah tempat kita melihat sisa-sisa pesta: gelas berserakan, sampah menumpuk, dan seseorang bertanya, “Siapa yang tanggung jawab bersih-bersih?”
2.1. Deforestasi Skala Besar: Hutan Hilang, Satwa Menangis
Tambang batubara terbuka mengharuskan pengupasan seluruh vegetasi. Dalam hitungan minggu, area yang sebelumnya hutan lebat berubah menjadi gurun tanah coklat.
Burung enggang, orang utan, lutung, beruang madu, semua tergusur. Habitat hilang, rantai makanan rusak, dan spesies terancam punah mendapat ancaman tambahan — seolah hidup mereka sebelumnya tidak cukup rumit.
2.2. Kerusakan Tanah: Dari Subur ke Sial
Tanah lapisan atas (top soil) biasanya kaya nutrisi. Tapi begitu dikupas dan disingkirkan, tanah yang tersisa adalah tanah miskin mineral yang bahkan singkong pun mungkin akan menggelengkan kepala melihatnya.
Reklamasi? Di atas kertas indah. Di lapangan, kadang hanya setumpuk rumput gajah yang ditanam secara seremonial sambil difoto drone.
2.3. Air Terkontaminasi — Sungai pun Ikut Pahit
Lubang tambang yang besar dan dalam akan terisi air hujan. Di sinilah muncul sahabat lama yang tak diundang: air asam tambang. Air ini mengandung logam berat yang jika mengalir ke sungai, bisa membuat ikan-ikan memutuskan migrasi dini ke alam baka.
Masyarakat sekitar yang dulunya mandi, mencuci, dan minum dari sungai kini harus membayar air galon — ironisnya, dari uang hasil bekerja di tambang.
2.4. Emisi dan Debu — Udara Langit Jadi Kelabu
Debu dari tambang bisa terhirup masyarakat, memicu ISPA, memperparah kesehatan, dan membuat WC umum di puskesmas setempat memiliki antrean yang lebih panjang dari antrean di warung bakso favorit.
Penutup: Tambang Batubara, Pedang Bermata Dua yang Tajam ke Dua Arah
Tambang batubara terbuka adalah paradoks yang sangat Indonesia: menguntungkan sekaligus merusak, membangun ekonomi namun menghancurkan ekologi, memberi pekerjaan tapi menciptakan ketergantungan.
Ia adalah pedang bermata dua — dan sayangnya, kedua sisinya sama-sama tajam:
Satu sisi memotong kemiskinan jangka pendek, mengalirkan pendapatan, membuka peluang.
Sisi lainnya memotong masa depan ekologis, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan generasi berikutnya.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah batubara bermanfaat?” — tentu iya. Tapi apakah kita membiarkannya terus menjadi raja tanpa batas, sementara lingkungan menanggung utangnya?
Pada akhirnya, kita harus bertanya:
Apakah kita ingin masa depan yang cerah dari energi, atau hanya terang karena hutan sudah habis terbakar?
Hutan mungkin tidak bisa berbicara, tetapi kalau bisa, mungkin ia sudah meneriakkan satu kalimat sederhana:
“Kalau mau ambil batubara, ya ambil… tapi jangan perlakukan aku seperti mantan yang ditinggalkan tanpa penjelasan.”
Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi, sosial dan lingkungan. Anggota Forum Lingkar Pena Kebupaten Lahat.





