Reporter: M. Fajar Shodiq

Editor: Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Debu dari aktivitas angkutan batu bara di jalan hauling PT LBA dikeluhkan warga Desa Purwosari dan Karangrejo, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat.

Di tengah kemarau panjang, debu disebut semakin mudah beterbangan dan masuk ke area perkebunan hingga permukiman warga. Kondisi ini dikhawatirkan tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan produktivitas petani karet.

Sejumlah warga mengaku mengalami keluhan seperti sakit tenggorokan dan sesak napas, terutama ketika cuaca panas dan kondisi jalan hauling dalam keadaan kering.

Petani karet yang kebunnya berada di sekitar jalur hauling juga mengeluhkan debu yang menempel pada tanaman, termasuk pada bidang sadap karet.

Menurut warga, persoalan tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada pihak perusahaan. Bahkan, dalam pertemuan dengan masyarakat beberapa waktu lalu, disebutkan adanya kesepakatan bahwa jalan hauling akan dilakukan penyiraman sebanyak delapan kali dalam sehari semalam.

Penyiraman tersebut terdiri dari enam kali pada siang hari dan dua kali pada malam hari.

Namun, warga mempertanyakan realisasi kesepakatan tersebut.

Hal itu juga coba dipantau langsung oleh awak media pada Selasa, 8 September 2026. Sejak sekitar pukul 07.00 hingga 10.30 WIB, tidak terlihat aktivitas penyiraman di sejumlah ruas jalan hauling di wilayah Desa Purwosari dan Karangrejo, khususnya ruas yang berada di dekat perkebunan karet warga.

Bagi petani, dampak debu bukan hanya persoalan lingkungan. Mereka mengaku produktivitas karet ikut terganggu karena debu menempel pada tanaman dan bidang sadap sehingga lebih cepat mengering.

Salah seorang warga, Miskun, mengatakan aktivitas hauling sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat yang tinggal dan berkebun di sekitar jalur tersebut.

«“Sangat berdampak sekali. Yang pertama produksi menurun karena bidang sadap cepat mengering karena debu. Dan masalah kesehatan, yaitu pernapasan,” ujarnya.»

Selain persoalan debu, Miskun juga menyoroti minimnya sosialisasi sebelum pembangunan jalan hauling yang berada di sekitar lahan masyarakat.

Ia mengaku belum mengetahui secara jelas hak-haknya sebagai warga yang kebunnya berada tepat di sisi jalan hauling.

«“Jadi saya sendiri tidak tahu apa hak-hak saya sebagai warga yang kebetulan kebun saya berada tepat di pinggir jalan hauling ini,” imbuhnya.»

Keluhan serupa disampaikan petani karet lainnya, Hermansyah. Ia mengatakan persoalan debu sudah beberapa kali menjadi perhatian warga.

Menurutnya, warga bahkan pernah membuat kesepakatan tertulis menggunakan meterai dengan pihak perusahaan terkait penyiraman jalan hauling.

Dalam kesepakatan tersebut, perusahaan disebut bersedia melakukan penyiraman sebanyak delapan kali sehari semalam, yakni enam kali pada siang hari dan dua kali pada malam hari.

«“Nah, ini bisa dilihat sendiri, sampai pukul 10 lebih belum ada penyiraman. Bahkan kemarin jam satu siang baru mau ambil air untuk menyiram,” ungkap Hermansyah.»

Hermansyah menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius karena lokasi jalan hauling cukup dekat dengan permukiman masyarakat.

Menurutnya, jarak jalan hauling dengan permukiman warga hanya sekitar 200 meter. Kondisi tersebut, kata dia, membuat dampak debu dirasakan masyarakat secara luas, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Ia berharap perusahaan tidak hanya memperhatikan kelancaran aktivitas angkutan batu bara, tetapi juga menjalankan langkah pengendalian dampak lingkungan secara konsisten.

«“Kami meminta perusahaan benar-benar memperhatikan masalah ini. Jangan hanya mengambil keuntungan, tetapi dampak terhadap masyarakat juga harus diperhatikan,” harapnya.»

Warga berharap perusahaan melakukan evaluasi terhadap sistem pengendalian debu, khususnya pelaksanaan penyiraman jalan hauling sebagaimana kesepakatan yang disebut telah dibuat bersama masyarakat.

Mereka juga meminta adanya pengawasan dari pihak terkait agar aktivitas hauling tetap berjalan, namun tidak mengorbankan kenyamanan, kesehatan masyarakat maupun keberlangsungan usaha petani karet yang berada di sekitar jalur tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *