Reporter : Val

Editor : Redaktur tvkitenews

Lahat, tvkitenews.com – Sepanjang musim kemarau tahun 2026 ini, terdapat 3 areal sawah seluas 150 hektar, dari 3 desa Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat terdampak langsung kekeringan, akibatnya tanah di lahan sawah menjadi retak, kering tidak bisa digadap sama sekali. 

Dikatakan Hadi Darmawan, Kades Jati Kecamatan Pulau Pinang, 3 desa itu yakni Pagar Batu, Kuba dan Jati, namun di Desa Jati dampaknya sangat parah, sawah seluas 58 hektar di Desa Jati tidak bisa digarap sama sekali karena kering.

“Sebenarnya ada 150 hektar sawah yang terdampak, namun dua desa di bagian hulu masih mendapat air meski kecil, dan desa di hilir tidak sama sekali, akibatnya 58 hektar sawah warga di Desa Jati terpaksa dididamkan, sudah dua bulan tidak bisa digarap, padahal warga desa sangat mengandalkan sawah untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka,” keluhnya, Selasa (25/08/2026). 

Menurut Hadi, kondisi membuat warga di desanya begitu kesulitan, lantaran bertani padi sudah menjadi urat nadi masyarakat. 

“Sawah di desa kami, menjadi sumber pangan utama, warga yang bertani, tidak beli beras lagi, dan selebihnya dijual, namun, pada tahun 2026 ini saja, dari Januari hingga Agustus ini, petani kami baru sekali panen, hasilnya pun sangat sedikit, hanya 50 persen dari biasanya, yang seharusnya pada bulan bulan seperti saat ini, petani sudah dua kali panen,” ungkap dia. 

Sementara itu, diakui Ariadi, petani di Desa Jati, sekaligus ketua Ataghan Jati mengatakan, masalah utama kekeringan itu, karena irigasi saat ini lebih tinggi dari debit air Sungai Lematang yang mengecil akibat kemarau. 

“Solusinya, irigasi yang ada di Desa Pagar Batu itu dibangun kembali hingga 150 meter ke hulu, bisa dibuat irigasi memanjang atau dipasang pipa besar, karena kalau dibagian hulu air lebih tinggi dan deras, sehingga diperkirakan air akan bisa masuk ke saluran irigasi meski debit sungai mengecil,” ujar dia. 

Pihaknya meminta Pemerintah Kabupaten Lahat dapat meninjau secara langsung saluran irigasi mereka, dan membangun solusi yang ditawarkan petani itu. 

“Kalau kemarau terus berlanjut, dan tidak ada pembangunan irigasi, sawah kami akan terus kering, padi tidak bisa ditanam, lahan ditumbuhi semak belukar, dan kami kesulitan mendapatkan pangan, untuk itu kami berharap, keluhan kami ini bisa ditindaklanjuti,” pungkasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *